Siapa yang nggak kenal Willie Salim, orang yang suka bagi-bagi uang itu? Siapa kaum hawa yang nggak kenal sosok seorang Fuji yang disebut sebagai Ratu FYP Tiktok itu? Siapa yang nggak tahu kisah asmara pesepakbola Pratama Arhan dengan Azizah Shalsa yang merupakan putri dari seorang politikus Indonesia itu?
Semua gara-gara ada sosial media. Ya, platfrom digital berbasis internet yang memungkinkan kita bisa saling berinteraksi baik melalui Youtube, Facebook, Tiktok, Instagram dan sebagainya. Dari anak-anak hingga yang sudah tua pun mereka punya loh akun sosial media. Entah tujuan mereka apa, yang jelas kebanyakan ya posting konten yang nggak jelas. Tapi seringnya bisa buat orang lain ketawa.
Jika nggak ada sosial media, sudah pasti sulit bagi kita untuk setiap hari mencari tahu atau dijejali informasi terbaru dari kehidupan orang-orang yang kita sukai atau mereka yang memiliki panggung di sosial media. Itu pun hanya beberapa dari banyaknya orang, sebut saja seperti artis, selebritis, tiktoker, selebgram, dan lain-lain sebutannya.
Untuk setiap hari bisa tahu info mereka, kita perlu mengikuti sosial media para artis dan kawan-kawannya itu dengan klik "follow" atau "Ikuti". Tak heran, akhirnya mereka pun punya banyak pengikut di sosial media yang mereka miliki. Siapa disini yang nggak follow akun para idola? ya kan..
Jika dilihat pada platfrom Tiktok saja, per hari ini Willie Salim punya follower yang jumlahnya 76 juta akun, Fuji punya follower 37,8 juta akun, dan Pratama Arhan walaupun sebagai atlet sepak bola ia mampu memiliki follower 3,6 juta akun. Sedangkan Azizah Salsha sendiri punya follower 3,3 juta akun. Itu baru pada platfrom Tiktok saja lho, belum yang lain.
Sebagai follower, sudah tentu diisi oleh orang-orang yang memiliki fanatisme sebagai fans. Entah karena kontennya yang bagus, entah karena keelokannya, atau entah karena isu panasnya. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang tidak suka juga ikut andil sebagai penambah jumlah follower mereka. Karena sifat sosial media yang begitu bebas, banyak akun fake yang kemudian berkeliaran diberbagai sosial media. Bahkan tidak hanya sebagai follower, seringkali merupakan gerombolan buzzer yang suka mempengaruhi opini publik.
Ngomongin sosial media, pemerintah Indonesia sendiri diam-diam tahu bahwa sosial media ternyata bisa menjadi alat propaganda yang bisa mempengaruhi opini banyak orang. Tak heran kan, pemerintah akhirnya menggandeng beberapa orang yang memiliki banyak follower agar bisa mendukung citra pemerintahan. Contohnya, waktu pemerintah bawa orang-orang itu ke Ibu Kota Nusantara? Ramai kan itu beritanya.
Pemerintah juga pernah punya wacana untuk membuat kebijakan satu orang untuk satu akun sosial media, namun belum apa-apa sudah dibanjiri kritik negatif sama masyarakat +62. Jari-jari kita mampu memberikan komentar yang menusuk dan menohok. Masyarakat yang secara sosial masih sangat fanatik dengan segala sesuatu ini sangat-sangat berbahaya sebetulnya jika sudah megang HP, PC atau laptop. Jari-jari kita seakan memiliki inspirasi yang luar biasa dengan sekali "klik" saja.
Dibalik adanya sosial media bagi kita semua, ternyata menyimpan masalah yang pelik yaitu masih banyak konten-konten di sosial media yang memecah belah bangsa. Banyak konten yang berbau DFK (Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian) berkeliaran hingga selalu keluar di halaman utama sosial media. Hal ini berhaya dengan kondisi sosial masyarakat yang fanatik akan mudah dipecah belah oleh hanya dengan satu postingan DFK saja. Sebut saja seperti video Sri Mulyani yang bilang bahwa guru adalah beban negara. Pahadal Sri Mulyani nggak pernah ngomong seperti itu. Tapi sudah digoreng kesana-sini oleh buzzer. Dan ya, akhirnya masyarakat yang kurang riset hanya menelan mentah-mentah video DFK itu.
Negara dalam artian pemerintah nggak mampu untuk mengontrol arus deras sosial media. Perlu kebijakan yang strategis untuk mengatasi masalah ini. Sulit memang, karena berkaitan dengan kebebasan berekspresi. Pemerintah harus mendorong masyarakat untuk selalu melakukan riset terlebih dahulu sebelum mengambil informasi dari sosial media. Agar nggak mudah digiring opininya ke hal-hal yang negatif.
Kita jadi paham kan, sistem sosial media yang dibangun dengan konsep menampung follower ini menjadi mesin penggerak yang top cer. Di bidang ekonomi saja jadi alat marketing kan itu artis-artis yang sampai ikut jualan online lewat live sosial media. Di tambah sebenernya kita itu dijadikan ladang bisnis bagi orang luar karena kefanatikan kita akan sesuatu. Banyak kan konten-konten luar yang selalu menggaet Indonesia dari segi apapun. Contohnya ya klub sepak bola. Kalau ada pesepak bola Indonesia yang bermain diklub luar pasti jumlah follower tim tersebut akan cepat naik.
Dibalik panggung sosial media yang menyimpan power besar itu semoga dapat menjadi alat yang positif untuk mengarahkan kehidupan yang lebih baik. Membawa perubahan ke hal-hal yang positif. Jangan dijadikan sebagai alat propaganda yang membuat dan menambah pecah belah bangsa Indonesia. Itu saja sih..

0 Komentar