Tiba-tiba inget kata Pakdhe Auguste Comte,
"Perubahan generasi adalah mesin perubahan sosial, dan setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi berikutnya."
Sayangnya di negeri republik dagelan ini, setiap generasi malah asyik “gontokan-gontokan”, gap generasi tua dan muda jadi jauh.
Yang tua bilang, “Zaman kami dulu tuh susah, kamu enak tinggal nerusin!”
Yang muda jawab, “Iya, tapi yang diwarisin kok bukan kesuksesan, malah cicilan dan drama politik?”
Alhasil, bukan mesin perubahan sosial yang jalan… yang ada mesin cuci yang muter terus, nyeret semua orang ke putaran konflik tanpa jeda.
Generasi tua sibuk ngomel soal “anak sekarang kurang sopan” sementara generasi muda bingung, “Lha sopan bagaimana, Pakdhe? Chat dibales cuma ‘OK’ aja sudah dianggap kurang ajar.”
Padahal kalau dua generasi ini kompak, Indonesia bisa kenceng larinya. Masalahnya, yang satu jalannya masih pakai peta kertas, yang satu lagi pakai Google Maps tapi kuotanya habis pas mau belok.
Jadilah kita bangsa yang kalau disuruh maju yang tua bilang “maju pelan-pelan..”, yang muda bilang “gaskeun maksimal !!”, dan akhirnya malah mundur bareng-bareng karena salah dengar instruksi.
Tapi tenang… Selama kita masih bisa ketawa sama kekacauan ini, berarti masih ada harapan.
Sebab, kata Pakdhe Comte versi warung kopi:
“Generasi boleh beda, tapi kalau bisa ngakak bareng, tandanya kita masih satu bangsa.”

0 Komentar