Kenapa Dulu Rebutan Duduk Depan, Tapi Saat Kuliah Semua Kabur ke Belakang?
Kalau Anda masih ingat masa sekolah dasar, ada satu pemandangan klasik yang hampir terjadi di seluruh Nusantara: rebutan duduk di bangku paling depan. Bahkan sering kali yang rebutan bukan cuma siswanya orang tua pun ikut turun tangan. Ada yang datang pagi-pagi sekali biar anaknya dapat bangku depan, ada yang titip tas sebelum pintu kelas dibuka, dan ada pula yang rela berdebat kecil hanya untuk memastikan si buah hati tidak “terlempar ke barisan tengah”. Pokoknya bangku depan itu seperti kursi VIP konser, cuma bedanya yang manggung adalah… guru matematika.
Tapi lucunya, fenomena ini langsung hilang begitu seseorang naik level ke dunia perkuliahan. Tiba-tiba mahasiswa berubah menjadi makhluk misterius yang anti cahaya proyektor dan lebih senang merapat ke wilayah belakang kelas, seolah-olah barisan depan memancarkan energi tugas dadakan. Bahkan kadang dosennya sudah menawarkan: “Silakan duduk di depan biar lebih enak.” Tapi para mahasiswa hanya saling pandang sambil berkata dalam hati:
“Pak, kami di sini sudah nyaman… dan tidak ada niat untuk merusak ekosistem ini.”
Fenomena ini tentu kocak, tapi juga sebenarnya membuka sedikit kaca pembesar terhadap dunia pendidikan kita. Mengapa semangat ‘maju ke depan’ itu sangat kuat di SD, tapi makin ke atas makin hilang? Apakah anehnya pendidikan Indonesia bisa terlihat dari situ?
Bisa jadi iya. Di sekolah dasar, anak-anak masih berada dalam masa emas belajar. Mereka penuh rasa ingin tahu, percaya diri, dan tidak takut salah. Lingkungan SD sering kali lebih suportif, penuh pujian, dan tidak terlalu menekan. Orang tua pun masih sangat terlibat, kadang bahkan over-involved. Anak didorong untuk rajin, aktif, dan dekat dengan guru.
Namun makin tinggi jenjangnya, sistem pendidikan berubah. Ada tekanan nilai, tuntutan tugas, rasa takut dipanggil dosen, dan budaya “yang depan itu buat anak rajin banget atau korban tugas”. Akhirnya mahasiswa memilih jalur aman: baris belakang, tempat yang menurut mereka bebas interogasi dan nyaman untuk mengobservasi kehidupan dari kejauhan.
Di sinilah letak poin pentingnya: Pondasi terpenting pendidikan memang berada di sekolah dasar.
Di sanalah nilai-nilai belajar, keberanian bertanya, rasa ingin tahu, dan kebiasaan baik dibentuk. Kalau pondasinya kuat, anak tumbuh dengan mental yang siap menghadapi jenjang berikutnya. Kalau pondasinya lemah atau hanya berorientasi pada “harus terlihat rajin di depan”, maka ketika lingkungan berubah, motivasinya ikut melemah.
Maka sebenarnya lucu tapi miris: dulu kita maju ke depan karena didorong, bukan karena kesadaran. Begitu dorongan itu hilang, kita mencari belakang sebagai zona nyaman baru.
Jadi, apakah ini tanda aneh dari pendidikan Indonesia? Mungkin bukan sekadar “aneh” tapi pengingat halus bahwa pendidikan Indonesia perlu membangun motivasi internal, bukan hanya disiplin eksternal. Dan semuanya bermula dari SD: fondasi tempat anak belajar bukan hanya IPA dan perkalian, tapi juga keberanian, motivasi, dan kecintaan pada proses belajar itu sendiri.
Dan soal bangku depan di kuliah? Ya… sampai sekarang tetap kosong. Kecuali pas ujian. Eh itu pun masih pada rebutan belakang. Wkwk.

0 Komentar