"Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh".
Kata-kata mutiara di atas seakan semakin hari semakin sunyi. Bagaimana tidak? di era sosial media yang gencar seperti sekarang ini, yang ada adalah "Bersatu kita posting, bercerai kita trending". Budaya "Gotong-royong" yang kita tahu ya turun tangan bersama kalau ada problem. Sekarang yang ramai malah budaya "Gotong-posting".
Kalau ada problem nyari angle biar postingannya rame dan viral, banyak yang komen. Akhirnya orang bukan turun tangan, tapi "turun ke kolom komentar". Banyak dari kita kemudian berdebat karena tidak tahu duduk persoalan yang semestinya. Begitulah problem di era digital kira-kira.
Di zaman yang serba cepat seperti sekarang ini juga membuat kita sibuk mengejar kepentingan pribadi sampai lupa kalau kita itu juga punya "ekosistem". Sepertihalnya di hutan, kalau satu bagian rusak, semuanya ikut berantakan. Kita itu bukan sekedar sekumpulan orang yang tinggal di satu tempat. Ada ekosistem masyarakat mulai dari aspek hubungan sosial, lingkungan, nilai dan tindakan semua terhubung satu sama lain.
Kita sering menemukan realitas yang ironis. Di sekolah diajari jujur, di lingkungan luar sekolah malah dikelilingi contoh korup. Dibilang gotong-royong itu budaya kita, namun di sosial media malah sibuk nyinyir satu sama lain. Mau cinta lingkungan, tapi buang sampah sembarangan. Lah gimana?
Membangun ekosistem masyarakat yang baik merupakan upaya kita menciptakan lingkungan sosial yang saling mendukung, berdaya, dan berkelanjutan. Baik antara individu, kelompok, dan institusi. Dalam konteks Indonesia, gagasan ini penting karena masyarakat dihadapkan dengan berbagai persoalan sosial seperti ketimpangan ekonomi, lemahnya kepercayaan sosial, dan pekembangan zaman yang cepat.
Akhirnya kita akan memahami bahwa ekosistem masyarakat tidak hanya berkaitan dengan hubungan antar masyarakat saja, tetapi juga keterpaduan dari bebagai macam aspek seperti sosial, ekonomi, dan lingkungan agar kehidupan bersama menjadi harmonis dan produktif.
Membangun ekosistem masyarakat ini bisa kita mulai dari cara kita berpikir dan berinteraksi. Dari saling curiga jadi saling percaya, dari debat jadi kolaborasi. Kalau di dunia maya saja kita belum bisa berdiskusi tanpa saling sindir, gimana mau bangun dunia nyata yang lebih sehat?
Selain itu kita juga bisa mulai dengan menanamkan kembali etika sosial. Belajar mendengar sebelum bicara, verifikasi sebelum menuduh, dan kolaborasi sebelum kompetisi. Jangan tunggu pemerintah atau lembaga besar. Cukup mulai dari lingkar terkecil, seperti grup keluarga, komunitas, atau ruang diskusi online.
Kalau kita ingin ekosistem masyarakat yang kuat, jangan cuma berharap pada figur "admin", entah itu ketua RT, tokoh masyarakat, influencer, atau pejabat. Karena sejatinya, setiap dari kita adalah "co-admin" dalam kehidupan sosial kita sendiri yang punya tugas menjaga agar ruang interaksi tetap sehat, adil, dan terbuka untuk semua.
Jadi, sebelum bicara tentang Indonesia Emas atau apapun tentang kehidupan yang lebih baik bagi kita semua. Kita perlu refleksi dulu, apakah kita sudah bisa ngobrol sehat di grup WA tanpa saling sindir? Karena mungkin membangun ekosistem masyarakat yang berdaya itu dimulai dari bukan seminar nasional, tetapi dari grup WA kecil yang belajar dewasa bersama.
Dan kalu kita merasa kesindir, ya mungkin karena kita masih admin grup yang belum sadar kekuatannya, hehe.

0 Komentar