Di suatu senja yang muram, di antara lembayung langit yang perlahan meredup, seorang lelaki duduk di ambang pintu rumahnya yang sederhana. Udara sore yang sejuk menyentuh kulitnya, namun hatinya tidak merasa tenang. Di tangannya tergenggam sebuah buku doa yang sudah usang, dengan sampul kulit yang mulai mengelupas. Namun, ia tetap membawanya setiap hari, seperti sebuah rutinitas yang tidak bisa ia tinggalkan. Buku itu berisi doa-doa yang ia baca dengan penuh pengharapan. Setiap kata yang terucap adalah pengakuan terhadap Tuhan yang ia cintai, meski kadang hati dan pikirannya tidak selalu seirama dengan kata-kata itu.
Namanya Firman. Ia sudah lama merasa kehilangan arah dalam hidup. Kehidupan yang ia jalani penuh dengan rutinitas yang tidak pernah memberi rasa puas. Keluarganya biasa saja, pekerjaan di kantornya monoton, dan yang lebih parah, jiwanya seolah terluka oleh waktu. Tidak ada kegembiraan, tidak ada cinta, hanya kehampaan yang terus merayapi hatinya.
“Ya Tuhan, apakah Engkau masih mendengarku?” gumamnya perlahan, matanya menatap langit yang semakin kelam.
Firman merasa Tuhan terlalu jauh dari dirinya. Ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk mendekatkan diri, berdoa dengan sepenuh hati, bahkan melakukan segala hal yang ia rasa akan mendekatkannya kepada-Nya. Namun, entah kenapa, ia merasa hubungan itu kian memudar. Doa-doa yang ia lantunkan terasa hanya mengalir di udara tanpa ada yang menanggapi.
Suatu malam, saat Firman berbaring di ranjangnya, ia teringat pada satu hal: tentang bagaimana dahulu ia merasa begitu dekat dengan Tuhan. Masa-masa ketika ia masih muda, penuh semangat dan keyakinan. Waktu itu, setiap doa terasa seperti percakapan langsung, setiap waktu shalat terasa penuh dengan ketenangan. Namun, seiring berjalannya waktu, segalanya berubah. Duniaku semakin keras, kata hatinya.
Namun, malam itu, sesuatu yang aneh terjadi. Firman terjaga di tengah malam, dan matanya tertuju pada langit-langit kamar yang gelap. Ada suatu keheningan yang memanggilnya untuk berdoa. Dengan perasaan yang campur aduk, ia bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil buku doa yang telah lama tidak disentuh. Ia membuka lembar demi lembar, sampai akhirnya ia tiba pada halaman yang paling ia kenal. Lembar yang berisi permohonan tentang cinta dan kerinduan pada Tuhan. Firman mulai membaca doa itu dengan suara lirih, namun kali ini ia berusaha mengucapkannya dengan perasaan yang berbeda.
Ia tidak hanya membaca, tetapi merasakannya. Setiap kata, setiap kalimat terasa mengalir begitu dalam, masuk ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Firman merasakan seolah-olah ada tangan yang lembut menyentuh hatinya, memberikan rasa tenang yang selama ini ia cari. Ia merasa seolah sedang merayu kekasih yang sudah lama ia rindukan. Bukan dengan kata-kata indah atau hadiah yang mewah, tetapi dengan kesungguhan hati yang terdalam.
“Ya Tuhan, aku merindukan-Mu,” katanya dalam hatinya, seolah sedang berbicara langsung kepada-Nya. “Aku tahu, aku sering melupakan-Mu, tetapi hatiku tak pernah berhenti mencintai-Mu. Aku hanya... merasa jauh.”
Ada keheningan yang menjawab. Firman menutup matanya dan merasakan sebuah kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya, sebuah rasa damai yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Pada saat itu, ia sadar bahwa Tuhan tidak pernah jauh. Yang hilang, justru dirinya sendiri yang terlalu sibuk dengan dunia dan pikiran-pikiran yang mementingkan diri sendiri.
Sejak malam itu, Firman mulai memahami bahwa merayu Tuhan bukanlah soal mengucapkan kata-kata indah atau meminta hal-hal yang duniawi. Merayu Tuhan adalah tentang membuka hati, merendahkan diri, dan merasakan cinta-Nya yang tak terbatas. Ini adalah seni yang tidak bisa dipelajari dari buku atau ajaran agama semata. Ini adalah seni yang lahir dari dalam hati, dari ketulusan dan kejujuran diri.
Setiap kali Firman merasa kosong, ia mulai berbicara kepada Tuhan, seperti berbicara kepada kekasih yang paling ia cintai. Tidak perlu dengan kata-kata yang sempurna, karena Tuhan sudah tahu apa yang ada di dalam hati setiap hamba-Nya. Ia mulai menyadari bahwa dalam setiap detik kehidupannya, ada Tuhan yang selalu menemani, ada Tuhan yang selalu mendengar, bahkan ketika ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Waktu terus berjalan, dan kehidupan Firman perlahan-lahan berubah. Tidak ada yang dramatis, tidak ada perubahan besar yang bisa dilihat dengan mata kasar, namun hatinya lebih tenang, lebih penuh dengan rasa syukur. Ia merasa lebih hidup, lebih terhubung dengan setiap detik yang ia jalani. Ia tidak lagi mencari kebahagiaan di luar dirinya, karena ia telah menemukan kebahagiaan yang lebih dalam, yang berasal dari hubungan dengan Tuhan yang semakin akrab.
Suatu pagi, setelah shalat subuh, Firman duduk di teras rumahnya dengan secangkir kopi di tangan. Langit sudah mulai cerah, dan burung-burung bernyanyi di pepohonan sekitar rumahnya. Ia menatap pemandangan itu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa damai.
“Ya Tuhan, terima kasih,” katanya dalam hati, tersenyum. “Aku merasa kembali dekat dengan-Mu.”
Ia menyadari bahwa dalam setiap rayuan kepada Tuhan, ada proses panjang yang harus dilalui. Merayu Tuhan bukan tentang menuntut atau meminta, tetapi tentang memberi ruang di dalam hati untuk cinta-Nya. Ini adalah seni yang memerlukan kesabaran, ketulusan, dan keteguhan hati. Dan Firman, akhirnya, mulai memahami bahwa hubungan dengan Tuhan adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang terus tumbuh, meski tak selalu tampak di mata manusia.
Pada akhirnya, seni merayu kekasih-Nya bukan hanya tentang kata-kata, melainkan tentang bagaimana kita merasakan kehadiran-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita. Dan dalam perasaan itulah, Firman menemukan ketenangan sejati.

0 Komentar