Krisis Kesadaran



Kita berjalan di atas tanah yang sama,

tapi mata kita sibuk menatap layar,

bukan wajah sesama.


Kita bicara tentang kebenaran,

tapi lebih sering menyalin suara orang lain,

lalu merasa paling sadar, paling tahu arah,

padahal peta pun kita pinjam dari yang tersesat.


Laut kesadaran kini dangkal,

gelombangnya penuh citra dan caption,

tak ada kedalaman, hanya riak yang ingin viral.


Di sekolah, kita diajari berpikir,

tapi lupa diajari merasa.

Di rumah, kita disuruh sopan,

tapi jarang diajak mendengar.


Kita sibuk membangun menara opini,

namun pondasinya retak oleh ego pribadi.

Kita ramai meneriakkan “bangunlah!”,

padahal diri sendiri masih terlelap di ranjang kemunafikan.


Lalu siapa yang benar-benar sadar?

Yang berteriak di jalanan?

Atau yang diam tapi menanam harapan?


Mungkin kesadaran bukan soal tahu,

tapi soal mau, 

mau berhenti sejenak,

menatap cermin,

dan jujur pada bayangan sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar