Suara yang Hilang dalam Sujud



Di kota yang tak pernah tidur, suara klakson bersahut dengan notifikasi ponsel. Orang-orang berlomba menjadi “bahagia” versi media sosial, tersenyum di layar, tapi rapuh di balik layar. Dunia modern telah menjadikan keheningan sebagai kemewahan, dan kedamaian sebagai barang langka.

Yazid adalah bagian dari arus itu. Lulusan universitas ternama, bekerja di perusahaan besar, hidupnya tampak sempurna di mata orang. Entah kenapa jauh di dalam dirinya, ada kekosongan yang ia sendiri tak mampu beri nama. Ia bangun tiap pagi dengan rasa sesak yang tak punya sebab. Ia mencoba berbagai jalan keluar. Mulai dari meditasi, liburan, hingga terapi daring. Tapi ruang gelap dalam hatinya tetap tak tersentuh.

Suatu malam, di antara rasa gelisah dan bosan, ia membuka media sosial dan menemukan video pendek seorang ulama sepuh yang berkata pelan,

 “Jika hatimu resah, bukan karena dunia terlalu berat. Mungkin karena kamu terlalu jauh dari Tuhan.

Kalimat itu sederhana, tapi menembus jauh ke dalam dirinya. Malam itu, tanpa banyak pikir, Yazid berwudhu. Ia berdiri di atas sajadah yang sudah lama terlipat di lemari. Gerakannya kaku, lidahnya kelu, tapi di tengah kebisuan itu, ia berucap lirih,

 “Ya Allah… aku lelah.

Dan malam itu, Yazid sujud lama sekali. Ia tak meminta apa-apa, hanya menangis. Tapi justru di situlah ia menemukan sesuatu yang selama ini ia cari yaitu kejujuran di hadapan Tuhan.

Hari-hari setelahnya tak serta-merta menjadi indah. Masalah tetap datang, pekerjaan tetap menekan, dunia tetap gaduh. Tapi ada satu hal yang berbeda yaitu hatinya mulai tenang. Ia mulai shalat lima waktu, membaca Al-Qur’an walau satu ayat. Kadang tak paham maknanya, tapi ia teruskan, karena ia tahu, ketenangan bukan datang dari tahu banyak, tapi dari mendekat.

Di luar sana, citra Islam seakan terus diuji oleh ulah segelintir manusia yang mengatasnamakan agama. Mulai dari terorisme, kekerasan, konflik sesama, hingga perilaku tak bermoral di lembaga pendidikan dan kalangan tokoh agama. Padahal, Islam sejatinya adalah cahaya yang menuntun pada kasih, keadilan, dan kemanusiaan. Tetapi sering kali tercoreng karena perilaku umatnya sendiri yang lupa memantulkan cahaya.

Yazid memahami keresahan itu. Ia tahu, sebagian umat sendiri kadang menampilkan wajah Islam yang keras dan penuh amarah, lupa bahwa Rasulullah datang bukan untuk menghakimi, tapi untuk menuntun.

Sejak itu, Yazid bertekad menjalani Islam bukan sekadar di sajadah, tapi juga dalam sikap. Ia ikut komunitas kecil di masjid dekat rumah, tempat anak-anak muda bisa datang tanpa takut dihakimi. Di sana, mereka berbicara tentang hidup, tentang kehilangan, tentang Tuhan dengan cara yang lembut dan manusiawi.

Dan di situlah Yazid paham, bahwa dakwah paling menyentuh bukanlah ceramah panjang atau debat teologis, tapi kehadiran yang membawa damai.

Kini Yazid berjalan di jalan yang berbeda. Ia tak lagi mengejar validasi dunia, tapi mencari ridha Tuhan di setiap langkah kecil. Ia tahu, di tengah dunia yang bising dan penuh stigma, tugas seorang Muslim bukan membela Islam dengan marah, tapi menunjukkan Islam dengan kasih.

Sebab agama ini sejatinya bukan beban, tapi obat. Bukan rantai yang mengekang, tapi cahaya yang menuntun jiwa-jiwa yang kehilangan arah. Dan di zaman di mana semua orang berlari tanpa tujuan, yang paling kuat bukanlah yang paling cepat, melainkan yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah.

Posting Komentar

0 Komentar