Di Hidup yang Hanya Satu Kali



Malam itu langit kota dipenuhi mendung. Awan hitam seakan menyelimuti seluruhnya. Hanya beberapa titik-titik cahaya lampu yang terlihat. Tak lama rintik hujan pun turun pelan, seakan ingin membasuh segala debu dan kotoran yang ada di dunia. 

Di sebuah warung kopi yang mulai sepi, duduk seorang lelaki berusia hampir setengah abad. Ditemani dengan segelas kopi panas yang terlihat jelas uapnya membumbung ke atas. Lelaki itu tak sendiri, ia ditemani sepi dan teman berdebatnya di alam pikiran. Namanya adalah Alis.

Dulu, Alis dikenal sebagai orang yang mudah tertawa, suka bergaul, dan tak pernah absen dari pesta. Namun, di balik tawa itu ada kehidupan yang porak-poranda. Hutang menumpuk, rumah tangga berantakan, dan ibunya yang renta sering menangis diam-diam mendoakannya di atas sajadah.

Bertahun-tahun lamanya Alis menghabiskan hidup di jalan yang salah. Meja judi, botol minuman, dan pergaulan kelam menjadi teman akrabnya. Ia merasa bisa hidup panjang, waktu yang banyak, dan kematian yang masih jauh.

Ah, nanti saja aku taubat. Allah kan Maha Pengampun,” begitu alasan yang sering ia ucapkan pada dirinya sendiri.

Namun satu persatu teman dekatnya dipanggil ajal. Ada yang meninggal karena sakit keras, ada pula yang mati mendadak di usia muda. Hati Alis mulai resah, meski ia sering menutupinya dengan tawa palsu.

Suatu malam, ia pulang dengan langkah gontai. Rumahnya gelap, hanya lampu kamar ibunya yang masih menyala. Saat ia masuk, ia mendapati ibunya tertidur di atas sajadah, dengan tasbih masih tergenggam di tangan keriputnya.

Alis tertegun. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Tiba-tiba ia merasa begitu kecil, begitu hina. “Ibu berdoa untukku, sementara aku sibuk bergelimang dosa,” batinnya.

Malam itu, Alis mulai gelisah. Ia teringat sebuah kalimat dari ustadz yang ada di kampung:

“Hidup ini hanya sekali, Alis. Kalau engkau salah melangkah, tak ada kesempatan untuk mengulang.”

Malam berikutnya, langkah Alis mengarah ke masjid kecil di ujung kampung. Pintu kayu masjid terbuka, aroma karpet basah oleh wudhu menyeruak. Saat itu, suara Ustadz tengah menerangkan ayat:

"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).

Ayat itu menancap tajam di hati Alis. Ia menunduk, menangis, dan sujud lama sekali. Dalam hatinya ia berbisik, “Ya Allah, jika hidup ini hanya sekali, izinkan aku menutupnya dengan taubat, bukan dengan dosa.”

Sejak malam itu, pelan-pelan Alis berubah. Ia mulai meninggalkan meja judi, botol minuman ia buang, dan ia kembali meramaikan shalat berjamaah. Tidak mudah, banyak godaan yang datang, banyak kawan lama yang mengejek. Namun setiap kali hatinya goyah, ia teringat wajah ibunya yang berdoa di atas sajadah. Ia teringat kematian yang bisa datang kapan saja. Dan ia teringat kalimat itu "hidup hanya sekali".

Tahun-tahun berlalu. Alis memang bukan orang sempurna. Ia masih berjuang, masih jatuh bangun, tapi hatinya kini lebih tenang. Ia mulai berdamai dengan dirinya, dekat dengan ibunya, dan rajin membantu orang-orang di kampung.

Di suatu malam yang tenang, Alis tersenyum dalam doanya. Ia sadar, hidup ini benar-benar singkat. Tetapi yang terpenting bukanlah berapa lama ia hidup, melainkan bagaimana ia menutupnya. Karena di hidup yang hanya satu kali ini, ia akhirnya memilih jalan pulang.

Posting Komentar

0 Komentar