Refleksi Mantan Aktivis




Sudah lama tak menyandang gelar mahasiswa membuat bulu kuduk saya berdiri ketika mendengar berita tentang demonstrasi warga sipil di beberapa wilayah Indonesia. Demonstrasi yang digelar mulai tanggal 25 Agustus 2025 kemarin itu membuat saya ingin kembali ke zaman-zaman menjadi mahasiswa. Maklum, meskipun tampang begini-begini, saya dulu mantan aktivis kampus yang juga suka demo.

Bulu kuduk saya berdiri ini pun bukan tanpa sebab. Pertama, saya jadi optimis tentang Indonesia Emas, jika melihat warga sipil termasuk mahasiswa yang masih memiliki nyala api untuk melakukan perlawanan kepada ketidakadilan di negeri ini. Kedua, melihat adanya aksi brutal aparat hingga terdapat beberapa korban jiwa termasuk terdapat anggota aparat itu sendiri. Bagi saya, kondisi ini sangat miris sekali.

Juga tak kalah miris yang menambah bulu kuduk saya berdiri, yaitu adanya perusakan fasilitas umum termasuk kantor-kantor pejabat hingga rumah pribadi mereka. Kantor dan rumah pribadi pejabat itu tidak hanya dirusak, namun juga dijarah. Sampai keluar banyak di sosial media terkait quote "RUU Perampasan Aset Disahkan oleh Rakyat" dan "Dari Rakyat Kembali ke Rakyat". 

Terdapat informasi yang simpang siur terkait latar belakang aksi besar-besaran kemarin di beberapa wilayah Indonesia. Apalagi kalau melihat informasi di sosial media warga +62. Ada yang bilang aksi demonstrasi kemarin ditunggangi kelompok anarkis. Ada yang bilang kemarin merupakan aksi cipta kondisi agar terjadi darurat militer. Ada yang bilang aksi kemarin bertujuan untuk melemahkan Polri dan mencopot Kapolri. Ada yang bilang juga karena ada oknum pejabat yang menantang warga sipil (Seperti kasus di Pati). 

Entah apa yang melatarbelakangi aksi demonstrasi kemarin, baik cipta kondisi maupun dunia perpolitikan Indonesia. Bagi saya ketika sudah tercium sebuah ketidakadilan, rakyat berhak menyuarakan pendapat. Disituasi dan kondisi ekonomi yang serba sulit bagi masyarakat, kenapa para anggota dewan mau menaikkan gaji tunjangannya? kenapa malah joget-joget? apalagi bilang "tolol" ke masyarakat?

Saya jadi terenyuh melihat kondisi negara ini. Kalau boleh ngomong sesuatu, saya mungkin mengambil kalimat milik Cak Nun:

Lah ini Indonesia ini menderita apa? sehingga kamu kejamnya begitu rupa kepada rakyat. Kamu menderita apa? Kamu miskin apa? Kamu pernah puasa kayak apa? Kamu pernah tirakat apa? Kamu lancar-lancar semua kok. Kamu bisa bayar miliaran untuk jadi pejabat kok! Apa alasanmu untuk jahat kepada rakyat? Sengkuni saja tidak sejahat kamu! Padahal ia penderitaannya ribuan kali lipat dibanding penderitaan hidupmu! 
 
Sudah saatnya pejabat publik termasuk mereka yang dipilih oleh rakyat sadar. Mereka harus sadar betul dan mengambil pelajaran dari kejadian aksi demonstrasi kemarin. Jangan kalian injak-injak masyarakat dengan kebijakan kalian buat, karena tidak lama rakyat akan melawan. Jangan jadikan masyarakat sebagai tumbal kepentingan partai maupun oligarki. Cukupkanlah kalian dari mabuk dunia.   


Posting Komentar

0 Komentar