Merayu Langit




Di tepi senja,

kuangkat wajah pada biru yang mulai pudar,

membisikkan kata-kata yang tak sanggup kutitipkan pada bumi.


Wahai langit,

bukalah tirai awanmu,

izinkan aku menaruh rindu

di sudut cahaya yang tak pernah redup.


Aku bukan burung yang pandai menembus cakrawala,

hanya manusia kecil

yang meminjam doa dari angin,

mencoba menyentuh hatimu

dengan nada yang gemetar.


Bila hujan nanti turun,

biarlah ia jadi tanda

bahwa kau menjawab dengan air mata yang manis,

membasuh dahaga,

dan menumbuhkan harap

di tanah yang lama kering.


Karena merayumu, langit,

adalah seni menyakinkan takdir

bahwa yang mustahil pun

bisa luluh oleh cinta.

Posting Komentar

0 Komentar