Jejak Derita Para Tokoh Bangsa dan Krisis Indonesia Hari Ini



Di balik kemerdekaan Indonesia, ada jejak panjang derita yang dilalui oleh para tokoh pergerakan nasional. Mereka bukan hanya berjuang dengan senjata dan pidato, tetapi juga membayar harga mahal dengan tubuh, pikiran, dan hidup mereka sendiri. Kini, ketika bangsa ini berada dalam krisis multidimensi mulai dari ekonomi, lingkungan, moral, hingga kepercayaan publik terhadap pemimpin, kisah mereka kembali relevan untuk direnungkan.

Bayangkan Tan Malaka. Ia bukan hanya tokoh besar pemikir revolusi, tapi juga manusia yang terlunta-lunta: hidup dalam pelarian, dijebloskan ke penjara, dan akhirnya mati ditembak oleh bangsanya sendiri. Ia dijuluki “Bapak Republik” oleh Bung Karno, tetapi lama sekali tidak diakui secara resmi oleh negara.

Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia, yang memperjuangkan demokrasi dan kemanusiaan, juga berakhir sebagai tahanan politik di negeri yang ia ikut dirikan. Ia tak diadili, tak diberi pembelaan, hanya dibungkam.

Soekarno, proklamator, penggali Pancasila, pemimpin besar revolusi, pun di akhir hayatnya justru disingkirkan, dijaga ketat, dan mati dalam kesepian. Bahkan, Mohammad Hatta yang merupakan wakil presiden pertama mengundurkan diri karena kecewa pada praktik kekuasaan dan memilih hidup sederhana, jauh dari kemegahan politik.

Ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah cermin. Bahwa membangun bangsa bukan jalan mulus penuh pujian, tapi medan berat penuh luka.

Kita hidup di masa ketika korupsi merajalela meski hukum ditegakkan. Ketika isu lingkungan seperti limbah industri, krisis air, dan hutan terbakar dianggap biasa. Ketika elite politik bicara tentang rakyat, tapi sibuk membangun dinasti. Ketika kritik dianggap ancaman, bukan koreksi.

Harga pangan melonjak, anak-anak putus sekolah karena biaya, dan rakyat kecil kehilangan tanah karena proyek atas nama “kemajuan”. Krisis kepercayaan melanda. Kita krisis bukan karena tak punya sumber daya, tapi karena kehilangan jiwa pengorbanan.

Namun, krisis ini bukan semata salah pemimpin. Masyarakat pun turut andil dalam memperparah keadaan. Kita mengeluh soal korupsi, tetapi masih membenarkan sogokan dan pungli asal urusan cepat. Kita kecewa pada politik uang, tetapi masih menerima amplop ketika pemilu. Kita menangisi pahlawan yang menderita, tetapi justru memuja tokoh yang penuh kemewahan dan pamer kekuasaan. Kita bicara soal krisis moral, tetapi masih menyebar hoaks, membenci di kolom komentar, dan lebih peduli sensasi daripada substansi.

Ironisnya, sebagian masyarakat justru memilih diam, masa bodoh, dan apatis. Kita lupa bahwa diam di tengah ketidakadilan adalah bentuk pengkhianatan terhadap pengorbanan para pendiri bangsa. Jika masyarakat tidak berubah, maka pemimpin pun akan terus terpilih dari cermin yang sama: cermin dari rakyat yang kehilangan nurani.

Kita sering memperingati Hari Pahlawan, memasang foto para tokoh di dinding, atau menjadikannya nama jalan. Tapi, pertanyaannya: apa yang sebenarnya kita warisi dari mereka? Apakah kita mewarisi keberanian Tan Malaka untuk menantang ketidakadilan? Apakah kita meniru kejujuran dan kesederhanaan Hatta? Apakah kita merawat semangat pendidikan kritis seperti Ki Hajar Dewantara?

Atau kita justru mewarisi apa yang menyakiti mereka: pengkhianatan, penindasan terhadap pemikiran, dan pelupaan terhadap nurani?

Di tengah krisis hari ini, kita perlu kembali membaca derita para tokoh bangsa bukan dengan belas kasihan, tapi dengan rasa malu dan tanggung jawab. Mereka telah membuktikan bahwa bangsa ini dibangun bukan dengan kekuasaan dan uang, tetapi dengan keyakinan dan penderitaan.

Jika Indonesia ingin keluar dari krisis baik ekonomi, politik, maupun moral. Maka kita harus kembali pada nilai-nilai yang diperjuangkan dan dibayar mahal oleh para tokoh itu: kejujuran, keberanian, kesetiaan pada rakyat, dan kesediaan menderita demi masa depan.

Dan sebelum menuntut perubahan dari para pemimpin, kita sebagai masyarakat harus terlebih dahulu membersihkan diri dari kemunafikan, apatisme, dan mentalitas instan. Karena bangsa besar hanya akan lahir dari rakyat yang mau berubah, bukan hanya dari tokoh yang dikagumi.

Posting Komentar

0 Komentar