Kopi Dan Rokok

HS: Heru Sunarko (hehe)


Di sebuah sudut warung kopi tua yang tak banyak berubah sejak bertahun-tahun lalu, duduk seorang pria paruh baya. Di depannya, segelas kopi hitam mengepul perlahan, menebar aroma pahit yang akrab. Di tangan kirinya, sebatang rokok terbakar perlahan, asapnya membentuk lingkaran-lingkaran kecil sebelum lenyap diterpa angin siang. Ia tidak sedang terburu-buru, tidak menunggu siapa-siapa, dan tidak sibuk menatap layar ponsel seperti kebanyakan orang. Ia hanya duduk dan menikmati waktu dengan caranya sendiri.

Kopi dan rokok. Dua hal sederhana yang sering kali dianggap remeh, namun bagi sebagian orang, keduanya lebih dari sekadar kebiasaan. Mereka adalah teman setia, pelipur resah, dan pengingat bahwa hidup tidak harus selalu berlari. Di tengah dunia yang penuh ambisi, target, dan tuntutan, kopi dan rokok menjadi simbol perlawanan: bahwa hidup bisa dijalani secara perlahan, tanpa tekanan yang tak perlu.

Kita hidup di zaman di mana segala sesuatu terasa harus cepat. Bangun pagi harus langsung produktif, siang harus penuh target, malam harus ditutup dengan evaluasi dan perencanaan besok. Kita dipacu untuk terus mengejar: jabatan lebih tinggi, gaji lebih besar, rumah lebih mewah, kendaraan lebih baru. Seakan-akan hidup ini adalah lomba panjang yang tak ada garis akhirnya.

Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang sedang kita kejar?

Di tengah semua kegilaan itu, ada sebagian orang yang memilih jalan berbeda. Mereka tidak tertarik dengan perlombaan ambisius. Mereka memilih untuk menikmati hidup dengan cara yang lebih sederhana. Duduk di warung kopi, menyeduh secangkir pahit, dan menikmati rokok sambil memandangi jalanan yang berlalu. Bukan karena mereka malas atau tak punya tujuan, tapi karena mereka tahu bahwa hidup tak harus selalu bergegas. Kadang, kita hanya perlu diam dan menghirup napas dengan utuh.

Bukan berarti ambisi itu salah. Ambisi bisa memberi arah, memberi semangat, dan membantu kita tumbuh. Namun ambisi yang berlebihan justru bisa menggerus hidup itu sendiri. Kita jadi terjebak dalam lingkaran “selalu kurang”: kurang sukses, kurang kaya, kurang dihargai. Kita menuntut diri lebih dan lebih, sampai akhirnya kehilangan makna dari apa yang sedang kita jalani.

Berapa banyak orang yang merasa hidupnya kosong meskipun terlihat “berhasil”? Berapa banyak yang tertawa di media sosial tapi menangis di kamar tidur? Di balik pencapaian, ada banyak jiwa yang letih. Mereka lupa bagaimana rasanya duduk santai tanpa rasa bersalah. Lupa bagaimana rasanya hidup tanpa harus membuktikan sesuatu kepada siapa pun.

Dan di sinilah kopi dan rokok mengambil peran kecil tapi bermakna. Mereka hadir sebagai teman di tengah jeda. Mereka tidak menuntut, tidak membandingkan, tidak mengharuskan kita menjadi apa-apa. Hanya ada rasa pahit yang menghangatkan, dan asap yang membaur dengan udara sore.

Kebahagiaan, ternyata, tidak harus megah. Ia bisa hadir dalam bentuk sangat sederhana: obrolan ringan di warung, canda gurauan antar teman lama, atau duduk sendirian sambil memandangi langit mendung. Dalam kesederhanaan itulah sering kali kita menemukan ketenangan yang sesungguhnya.

Kopi dan rokok bukan solusi hidup, tentu saja. Tapi mereka bisa menjadi simbol pilihan hidup. Pilihan untuk tidak selalu bersaing. Pilihan untuk menetap di titik “cukup”. Pilihan untuk bersyukur dengan apa yang dimiliki, bukan mengeluh atas apa yang belum dicapai.

Orang-orang yang duduk di warung sambil menyeruput kopi dan mengisap rokok kadang justru lebih jujur pada dirinya sendiri. Mereka tidak memakai topeng. Mereka tidak merasa perlu menunjukkan siapa diri mereka. Di warung kopi, semua orang setara. Entah dia buruh, petani, seniman, atau pengangguran yang penting bisa bercerita dan tertawa.

Kadang, justru dalam momen-momen seperti itu di antara tegukan kopi dan hembusan asap rokok kita menemukan diri kita sendiri. Kita menyadari bahwa hidup tidak perlu terlalu rumit. Bahwa kita tidak harus menjadi luar biasa untuk bisa bahagia. Bahwa hidup yang tenang dan cukup itu juga layak dibanggakan.

Akhir kata, dunia mungkin tidak akan pernah berhenti menuntut. Tapi kamu boleh berhenti sejenak. Boleh menepi. Duduk. Menikmati kopi. Menyalakan rokok. Mendengarkan suara angin dan obrolan warung. Karena hidup, sesungguhnya, bukan tentang seberapa cepat kamu mencapai puncak. Tapi tentang seberapa dalam kamu bisa menikmati perjalanan.

Posting Komentar

0 Komentar