Rokok Murah, Kopi Sachet, dan Wifi Gratis Tetangga


Di sebuah gang sempit pinggiran kota, hidup seorang pria lajang bernama Yayan. Usianya sudah kepala tiga, tapi semangat hidupnya masih seperti anak kos semester dua. Setiap pagi, Yayan bangun bukan karena alarm, tapi karena suara ibu-ibu ngerumpi di depan warung Bu Suminah dan ayam tetangga yang tidak pernah tahu diri, berkokok jam delapan.

Yayan tidak punya banyak harta. Kulkasnya kosong kecuali air dingin dan cabe rawit yang sudah keriput. Tapi dia punya tiga harta karun yang membuat hidupnya terasa tetap “hidup”: rokok murah merek “Kapal Damai”, kopi sachet rasa moka yang kadang terlalu manis, dan koneksi wifi tetangga yang entah kenapa belum pernah diganti password-nya.

Yang penting hidup ini ngopi bisa, ngerokok bisa, nonton YouTube juga bisa,” begitu kata Yayan sambil selonjoran di teras rumah kontrakannya yang sudah mulai berlumut. Di depannya, segelas kopi sachet mengepul, rokok menyala setengah, dan HP-nya memutar video podcast tentang konspirasi alien.

Wifi tetangga, yang katanya milik Mas Ridwan sebelah rumah, adalah penyelamat hidup. Sejak dua tahun lalu, Yayan hidup tanpa paket data. “Ngapain beli kuota kalau sinyalnya ada gratis?” katanya. Ia hafal betul jam-jam wifi lancar: pagi sebelum anak-anak sekolah nonton TikTok, siang saat tetangga kerja, dan tengah malam saat semua tertidur.

Kadang, kalau sinyal lemah, Yayan akan berdiri di pojok dapur, dekat lubang angin yang menghadap rumah Mas Ridwan. Di situlah titik sinyal terbaik. Ia bahkan pernah iseng naruh bangku plastik khusus di sana, dijuluki "Hotspot Corner".

Suatu sore, ketika langit mendung dan kopi sachet sudah habis, Yayan duduk melamun. Ia memandangi asbak penuh dan ponsel yang buffering terlalu lama. “Wifi-nya lemot, jangan-jangan Mas Ridwan sadar?” gumamnya. Deg-degan, ia mencoba membuka YouTube gagal. Netflix gagal. Bahkan Google pun menyerah.

Panik melanda.

Yayan berdiri, berjalan ke pojok dapur. Sinyal tetap nol. Ia mulai keringat dingin. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Yayan merasa seperti manusia tanpa masa depan: tak bisa streaming, tak bisa scroll komentar netizen, dan oh, horor terbesar tak bisa nonton MotoGP minggu depan.

Keesokan harinya, Yayan memutuskan langkah ekstrem: bertamu ke rumah Mas Ridwan. Ini pertama kalinya ia bersosialisasi ke luar “komunitas warung Bu Suminah”.

Mas Ridwan membukakan pintu sambil senyum. “Lho, Mas Yayan? Ada perlu?

Yayan kikuk. “Hehe… anu, Mas. Mau nanya… sinyal wifi-nya kayaknya lagi mati ya?

Mas Ridwan tertawa. “Oh, saya baru ganti password, Mas. Anak saya kebanyakan main game soalnya.”

Yayan terdiam. Napasnya seperti tercekik kopi sachet.

Tapi kalau Mas butuh, saya kasih aja deh password barunya. Daripada masang sendiri, kan mahal,” tambah Mas Ridwan sambil tertawa ramah.

Yayan tersenyum, hampir menangis. Dunia kembali cerah.

Sejak hari itu, Yayan berubah sedikit. Ia mulai suka menyapa tetangga. Sesekali beli gorengan buat anak Mas Ridwan. Ia bahkan ikut ronda malam sekali walau ketiduran di pos. Tapi itu kemajuan.

Dan setiap pagi, Yayan tetap duduk di terasnya. Rokok murah di tangan kanan, kopi sachet di kiri, dan HP-nya menyala dengan sinyal penuh. Ia menyebut gaya hidupnya sebagai "keseimbangan spiritual era digital": sederhana, gratis, dan tetap bisa nonton MotoGP.

Hidup, pikir Yayan, kadang cuma perlu tiga hal: rokok murah, kopi sachet, dan wifi gratis tetangga.


Posting Komentar

0 Komentar