"Rausyanfikr" adalah istilah yang dipopulerkan oleh Ali Syariati, merujuk pada sosok intelektual tercerahkan yang tidak hanya berpikir, tetapi juga bertindak demi perubahan masyarakat. Dalam konteks Indonesia, rausyanfikr dapat ditemukan dalam berbagai rupa sebut saja aktivis, pemikir, penulis, pendidik, seniman, bahkan birokrat yang masih menyimpan idealisme dalam sunyi.
Namun, satu hal yang sering menjadi penghambat besar dari kekuatan para rausyanfikr ini adalah ketidakmampuan mereka untuk saling bersinergi. Mereka berjalan dalam jalan masing-masing, memikul beban perubahan dalam kesendirian, atau malah terjebak dalam ego sektoral dan klaim kebenaran tunggal.
Padahal, andai saja para rausyanfikr itu saling berkolaborasi, sejarah bisa berubah arah. Bukan tidak mungkin Ibu Pertiwi hari ini telah lebih berdaya, lebih adil, lebih setara, lebih manusiawi.
Kerap kali, rausyanfikr terjebak dalam ruang-ruang eksklusif. Ada yang merasa perjuangan harus lewat jalan akademik, ada yang memilih aktivisme jalanan, ada pula yang mengekspresikannya lewat karya seni. Sayangnya, alih-alih saling melengkapi, masing-masing jalan ini justru saling mencurigai.
"Yang turun ke jalan disebut naif," kata si akademisi.
"Yang duduk di menara gading disebut tidak membumi," balas si aktivis.
"Yang melukis dan menulis dianggap tak konkret," ujar si pembuat karya.
Padahal, perubahan sejati tak bisa hanya lewat satu jalan. Kita butuh pemikiran yang tajam, tindakan yang nyata, dan imajinasi yang membebaskan. Semua kekuatan ini hanya bisa bekerja jika tidak saling meniadakan.
Bayangkan jika pemikir, seniman, dan aktivis bisa duduk satu meja, membicarakan masa depan bangsa tanpa mengedepankan ego. Bayangkan jika data akademik berpadu dengan kekuatan narasi seni dan energi perlawanan dari akar rumput. Hasilnya bukan hanya gerakan, tapi gelombang perubahan yang utuh: menyentuh logika, menggugah rasa, dan menggerakkan massa.
Kolaborasi bukan sekadar kerja sama teknis. Ia adalah bentuk kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. Ia membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya, dan bahwa orang lain mungkin memegang potongan kebenaran yang tidak kita punya.
Indonesia tidak kekurangan orang cerdas. Tidak kekurangan tokoh progresif. Tidak kekurangan idealis. Yang kita kurang adalah ruang temu dan kesadaran kolektif untuk saling memperkuat.
Ibu Pertiwi tidak butuh pahlawan tunggal. Ia butuh barisan rausyanfikr yang saling mengisi, bukan saling mengalahkan. Ia butuh narasi bersama, bukan sekadar monolog personal. Ia butuh gerakan kolaboratif, bukan sekadar kompetisi antar-intelektual.
Cahaya tidak pernah saling bertabrakan. Ia bersatu, lalu menerangi lebih luas. Begitu pula seharusnya para rausyanfikr: bersatu dalam perbedaan, saling menguatkan dalam perjuangan, demi satu cita yaitu keadilan dan kemerdekaan sejati bagi Ibu Pertiwi.

0 Komentar