Tetap Jadi Orang Baik Ya!



Hujan turun sejak pagi, perlahan namun konsisten. Udara lembap menyusup ke setiap celah rumah, membawa aroma tanah basah dan suasana yang menggantung. Di kamar yang temaram, Rani duduk membelakangi jendela. Rambutnya tergerai acak, matanya sembab, dan cangkir teh di sampingnya sudah dingin sejak dua jam lalu.

Pekerjaannya sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta baru saja berakhir—bukan karena kesalahan yang ia perbuat, melainkan karena fitnah. Rekan kerjanya, Dimas, menuduhnya memalsukan data laporan keuangan. Bukti? Hanya selembar printout yang dimanipulasi, namun cukup meyakinkan bagi manajer yang selama ini memang tidak terlalu menyukainya.

"Aku kerja lembur tiap malam. Aku yang selalu ngeberesin kerjaan Dimas yang dia tinggalin begitu aja. Tapi kenapa aku yang dikhianati?" gumamnya lirih, nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Rani belum punya keberanian untuk bercerita kepada siapa pun. Ibunya di kampung pasti akan panik. Sahabat-sahabatnya juga sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Ia memilih menyimpan semuanya sendiri, seperti biasanya.

Ketukan pelan di pintu memecah keheningan.

Tok… tok…

"Rani? Ini Bu Tatik…" terdengar suara lembut dari balik pintu.

Dengan langkah lemas, Rani membukakan pintu. Di hadapannya berdiri Bu Tatik, tetangga sebelah rumah yang sudah seperti ibu sendiri. Wajahnya penuh kehangatan, membawa termos kecil dan dua bungkus nasi.

"Kamu belum makan, kan? Nih, Ibu bawain bubur ayam," katanya sambil tersenyum.

Rani hanya bisa mengangguk. Suaranya tercekat. Ia mengambil bubur itu, mengucapkan terima kasih pelan.

"Kalau mau cerita, cerita aja ya, Nak. Nggak semua orang di dunia ini jahat. Masih ada yang peduli," ucap Bu Tatik sambil menatapnya penuh kasih.

Mereka duduk di ruang tamu, ditemani suara rintik hujan dan aroma kaldu bubur ayam. Rani mulai membuka sedikit demi sedikit cerita pahit yang selama ini ia telan sendiri. Tentang Dimas. Tentang kantor. Tentang ketidakadilan.

Bu Tatik mendengarkan dengan sabar. Tak menyela, hanya sesekali mengangguk, atau mengusap punggung tangan Rani pelan.

"Aku pengin marah, Bu. Aku pengin posting semua di media sosial, biar orang tahu siapa Dimas sebenarnya."

"Kalau itu bisa membuat kamu lega, silakan. Tapi ingat satu hal, Rani," ujar Bu Tatik, lembut namun tegas. "Kamu boleh marah, itu manusiawi. Tapi jangan sampai kehilangan hatimu. Tetap jadi orang baik, yaa..."

Rani menoleh. Tatapannya kosong. "Kalau aku tetap baik, tapi dunia tetap jahat ke aku, buat apa?"

Bu Tatik tersenyum kecil. “Rani, jadi orang baik itu bukan buat nyenengin dunia. Tapi supaya kamu tetap bisa tidur nyenyak malam-malam. Supaya kamu nggak berubah jadi seperti mereka yang nyakitinmu.”

Rani menunduk. Matanya mulai basah lagi, tapi kali ini bukan karena luka. Tapi karena disentuh oleh kehangatan yang tulus. Di dalam hatinya, kata-kata Bu Tatik menggema, mengendap pelan-pelan: "Tetap jadi orang baik yaa..."

Malam itu, Rani menyalakan laptop. Bukan untuk membuka situs lowongan kerja, melainkan untuk menulis. Ia menulis tentang rasa dikhianati, tentang kesabaran, dan tentang harapan. Tulisan itu ia unggah ke blog kecil yang dulu pernah ia buat saat kuliah, tapi sudah lama mati suri.

Tak disangka, tulisannya dibaca banyak orang. Komentar demi komentar berdatangan. Orang-orang yang merasa senasib. Yang pernah merasa diinjak meski sudah berbuat baik. Yang belajar untuk bertahan.

Seminggu kemudian, sebuah email masuk. Seorang editor dari media online mengajaknya menulis kolom rutin tentang kesehatan mental dan pengalaman pribadi. Rani menangis lagi—kali ini karena merasa dihargai.

Hidup memang belum sepenuhnya membaik. Ia masih menganggur. Masih sering dihantui amarah terhadap Dimas dan kantor lamanya. Tapi sekarang ia tahu: rasa sakit itu tidak harus dibalas dengan dendam.

Ia mulai menyapa tetangga. Sesekali membantu Bu Tatik memasak. Menjadi relawan di taman baca dekat rumah. Hal-hal kecil, tapi berarti.

Suatu sore, ia menulis di dinding kamarnya: "Aku tetap jadi orang baik, bukan karena dunia pantas menerimanya. Tapi karena aku tidak ingin menjadi bagian dari luka orang lain."

Dan tiap kali hatinya mulai goyah, ia akan mengulang pelan-pelan:
"Tetap jadi orang baik yaa…"

Posting Komentar

0 Komentar