Anaknya Dapat Makan Bergizi Gratis, Orangtuanya Dapat PHK



Programnya keren, tapi kok malah bikin orangtua nganggur?

Di sekolah, suasana lagi rame. Anak-anak senyum-senyum, semangat banget pas jam makan siang. Nasi hangat, ayam goreng, sayur, buah—semuanya gratis. Pemerintah lagi bagi-bagi makan bergizi buat para pelajar. Keren? Iya, sih. Tapi tunggu dulu.

Pas anaknya kenyang di sekolah, di rumah justru orangtuanya lagi stres mikirin cicilan, tagihan listrik, sama... surat PHK.

Yap, ini beneran kejadian. Di beberapa daerah, makin banyak orangtua murid yang kehilangan pekerjaan. Ada yang kerja di pabrik, ada yang sopir, ada juga yang kerja di toko. Mereka tiba-tiba harus pulang bawa kabar buruk: “Ayah di-PHK.” Sementara anaknya pulang sekolah sambil cerita, “Tadi makan daging, lho!”

Oke, kita sepakat: program makan bergizi ini tujuannya mulia. Supaya anak-anak makin sehat, nggak gampang sakit, dan bisa fokus belajar. Negara pengin generasi muda tumbuh maksimal. Tapi masalahnya, program ini mahal banget. Dana yang dipakai gede—triliunan rupiah, bro!

Dan ternyata, duit sebanyak itu kayaknya diambil dari pos-pos lain. Termasuk subsidi ke dunia usaha dan bantuan buat para pekerja. Jadi gak heran, banyak perusahaan akhirnya tekor dan milih ngurangin karyawan.

Cerita kayak gini nggak cuma satu dua. Di Karawang, Bekasi, bahkan Tangerang, ratusan buruh udah kena PHK dalam waktu beberapa minggu aja. Salah satu korban, Pak Suyatno, bilang dia seneng anaknya bisa makan sehat tiap hari. Tapi di rumah, dia dan istrinya harus muter otak supaya tetap bisa masak, meski isi dompet makin tipis. Miris banget, kan?

Banyak pengamat bilang, program kayak gini tuh bagus, tapi jangan sampai bikin ekonomi keluarga ambruk. Soalnya kalau orangtuanya nganggur, ujung-ujungnya anak-anak juga bakal kena dampaknya. Gak semua masalah bisa diselesaikan dari isi piring di sekolah.

Kenapa nggak sekalian libatkan warga sekitar sekolah buat masak makanannya? Atau kasih proyeknya ke UMKM lokal? Biar mereka juga dapet kerjaan, bukan cuma kontraktor besar yang udah kaya dari dulu.

Kita nggak butuh solusi setengah-setengah. Negara harus mikirin anak-anak dan orangtuanya juga. Jangan cuma fokus ke generasi masa depan tapi lupa generasi sekarang yang kerja banting tulang buat hidupin keluarga.

Harusnya program ini bisa jadi peluang kerja juga. Bisa buka lapangan baru buat ibu-ibu rumah tangga, tukang sayur, petani lokal, semua bisa dilibatkan. Bukan malah bikin pengangguran baru.

Anak-anak boleh kenyang di sekolah, tapi jangan sampai orangtuanya kelaparan di rumah. Negara harus hadir buat semuanya, bukan cuma buat pencitraan. Karena kalau dapurnya gak ngebul, masa depan juga ikut redup.

Posting Komentar

0 Komentar