Pernah nggak sih kamu merasa dunia ini makin aneh? Yang kelihatannya suci, ternyata manipulatif. Yang katanya pemimpin, malah jadi penindas. Yang mengaku paling agamis, justru ngegas paling keras. Semua ini kayak ngasih satu pesan penting, "jangan gampang percaya sama penampilan luar".
Ada satu kalimat tua dari zaman Romawi yang masih banget relevan hari ini yaitu "Homo Homini Lupus", yang berarti manusia adalah serigala bagi sesamanya. Kalimat ini bukan cuma puitis. Dia tajam. Ngena. Dan, ya, agak nyakitin. Tapi justru karena itulah kita perlu ngomongin ini lebih dalam. Kalimat ini pertama kali muncul dari karya Plautus, lalu dipopulerkan lagi oleh Thomas Hobbes, filsuf Inggris yang terkenal lewat bukunya Leviathan.
Menurut Hobbes, kalau manusia dibiarkan hidup tanpa aturan, tanpa hukum, tanpa kontrol, maka mereka akan saling memangsa. Saling menyerang. Saling menjatuhkan. Karena pada dasarnya, manusia itu egois. Mereka pengin bertahan hidup, pengin berkuasa, dan pengin jadi pemenang—meski harus nginjek orang lain.
Serem? Emang. Tapi coba lihat sekeliling. Dunia ini kayak panggung besar di mana banyak orang pakai topeng. Ada yang pakai topeng agama. Ada yang pakai topeng moral. Bahkan ada yang pakai topeng cinta. Tapi di balik semua itu, mereka bukan penggembala. Mereka serigala.
Ngomong-ngomong tentang hewan, ada sebuah novel yang ditulis oleh George Orwell yang berjudul "Animal Farm". Di novel itu, hewan-hewan di sebuah peternakan memberontak karena merasa diperlakukan nggak adil oleh manusia. Mereka pengin kebebasan. Pengin hidup setara. Pengin punya dunia baru yang lebih baik. Awalnya keren. Revolusi berhasil. Manusia diusir.
Tapi pelan-pelan, babi-babi pintar kayak mulai ngatur sistem baru. Bikin aturan, nyusun strategi, dan—secara halus—mengambil alih kekuasaan. Lalu semua berubah.
Hewan-hewan lain yang awalnya semangat, pelan-pelan dijadikan alat. Si kuda pekerja keras, terus bilang, "I will work harder." Tapi ketika dia udah tua dan sakit, dia malah dibuang. Literally. Dan aturan yang dulu bilang, "Semua hewan setara," berubah jadi: "Semua hewan setara, tapi sebagian lebih setara daripada yang lain."
Sakit banget? Iya. Tapi juga sangat real. Karena dunia ini kadang memang kayak peternakan penuh ilusi.
Kembali ke serigala, zaman sekarang serigala nggak cuma pake bulu domba. Mereka pakai segala bentuk topeng. Mulai dari topeng agama ngomongnya dakwah, tapi isinya maksa. Terus topeng cinta bilangnya sayang, tapi ngatur dan manipulatif. Lanjut ke topeng kepemimpinan katanya mau bantu rakyat, tapi malah sibuk naikin diri sendiri. Terakhir topeng persahabatan, bilangnya bro-sis, tapi suka nikung dan menusuk.
Dan ironisnya, mereka justru paling sering dapet panggung. Paling didengerin. Karena mereka pinter main retorika. Pinter bikin orang percaya. Tapi pada akhirnya? Mereka adalah serigala yang siap mangsa.
Di dunia yang makin absurd, kamu bisa ngelakuin beberapa hal penting. Pertama, belajar bedain antara kebaikan sejati dan manipulasi. Jangan langsung percaya sama orang yang bawa nama besar, agama, atau jabatan. Lihat dulu, dia ngajak mikir, atau cuma mau kamu tunduk?
Kedua, jangan cuma ikut arus. Punya prinsip. Punya nilai. Biar nggak gampang disetir. Ketiga, kritik bukan dosa. Bertanya bukan tanda kurang iman. Justru itu bentuk paling sehat dari berpikir. Kalau ada yang larang kamu tanya, bisa jadi dia takut kamu sadar.
Terakhir, dunia boleh keras. Tapi kita nggak harus jadi buas. Jadi manusia yang tetap adil, jujur, dan punya empati itu bentuk perlawanan paling keren.
“Homo homini lupus” bukan sekadar teori kuno. Ini realita. Kadang yang kita anggap panutan, malah jadi penindas. Kadang yang kita kira suci, malah paling kotor. Dan kadang, yang bilang "demi kebaikan," ternyata cuma ngejar kepentingan.
Karena di dunia yang penuh serigala, jadi manusia yang tetap punya hati adalah revolusi paling berani.

0 Komentar