Telor Mata Sapi



Jam dinding di ruang makan menunjukkan pukul 06.45 saat Pak Wahyu menatap sarapan di hadapannya: sepiring nasi hangat, tempe goreng, dan telor mata sapi buatan istrinya, Bu Rini. Kuningnya agak miring ke pinggir, putih telurnya tipis, dan bagian pinggirnya agak gosong. Tapi justru itu yang ia suka.

“Masih ada waktu sepuluh menit sebelum rapat,” kata Pak Wahyu sambil duduk.

Rapat pagi itu bukan rapat biasa. Sebagai staf bagian komunikasi di sebuah lembaga pemerintah, ia akan menghadiri peluncuran program nasional baru: “Gizi Cerah Indonesia 2045”—sebuah inisiatif yang katanya, akan mengubah wajah generasi bangsa dari sarapan pagi.

"Program ini sederhana," kata atasannya tempo hari. "Kita mulai dari makanan rakyat paling dasar: telor mata sapi. Kalau semua rakyat makan sarapan bergizi, kan cemerlang tuh otaknya."

Pak Wahyu sempat bertanya, kenapa fokusnya ke telor mata sapi. Bukannya banyak anak yang bahkan tak sanggup beli sebutir telur?

“Nah, justru itu. Kita kasih standar dulu. Nanti pelan-pelan, didorong lewat kampanye, subsidi, edukasi,” kata atasannya santai. “Lagian, kalau bikin standar mie instan bisa, masa telor nggak bisa?”

Rapat berlangsung di sebuah hotel bintang empat, lengkap dengan konsumsi mewah dan backdrop besar bertuliskan: “Telor Mata Sapi, untuk Bangsa yang Lebih Cerdas.”

Ada influencer gizi yang diundang, pejabat kementerian, bahkan seorang chef terkenal yang mendemokan cara membuat telor mata sapi “yang ideal”—pakai wajan antilengket impor, minyak zaitun, dan api kecil yang butuh kesabaran.

Wartawan sibuk mengambil gambar. Sementara di luar, tukang nasi uduk masih bergulat dengan kompor gas mini dan wajan bolong.

Malam harinya, program ini viral. Tapi bukan karena sukses, melainkan karena netizen ramai mengejek.

“Aku sih tim telor orak-arik.”

“Bicara gizi, tapi enggak bicara harga bahan pokok.”

“Masalah rakyat diselesaikan pakai sarapan? Keren juga.”

Pak Wahyu membaca semua komentar itu sambil rebahan. Ia senyum pahit. Ia tahu, ide awalnya baik. Tapi penyampaiannya, pemilihannya, dan realitasnya... jauh panggang dari api.

Keesokan paginya, Bu Rini menatapnya sambil membawa sarapan.

“Mau telor ceplok lagi, Pak?”

“Boleh. Tapi gak usah terlalu tengah, ya.”

“Hah?”

“Telor yang terlalu sempurna... biasanya cuma buat foto. Bukan buat kenyangin perut.”

Bu Rini tertawa kecil. Dan pagi itu, mereka sarapan sambil menonton berita: salah satu pejabat program “Telor Mata Sapi” baru saja tersandung dugaan markup anggaran pelatihan memasak.

Pak Wahyu mengaduk kopinya pelan. Di luar jendela, suara tukang sayur lewat, menawarkan telur ayam kampung, seribu lebih mahal dari kemarin.

“Telor makin mahal, tapi logika makin murah,” gumamnya.

Dan hidup terus berjalan, seperti biasa—penuh ide bagus yang tak pernah benar-benar sampai ke wajan rakyat kecil.


Posting Komentar

0 Komentar