Dewasalah Bersama Usiamu, Jangan Lupa Otak dan Tata Kramamu Bawa Juga



Di luar, Reno dikenal sebagai sosok pria muda yang sukses. Usianya baru menginjak 30 tahun, tapi ia sudah punya karier yang stabil di perusahaan konsultan ternama, apartemen kecil di tengah kota, dan lingkaran pertemanan yang luas.

Setiap kali reuni keluarga, semua orang memujinya.

“Reno mah beda, ya. Mandiri, nggak nyusahin orang tua.”
“Liat tuh, masih muda udah bisa beli apartemen. Keren!”

Reno hanya tersenyum setiap kali pujian itu datang. Tapi tak ada yang tahu, setiap malam ia merasa kosong. Setelah semua notifikasi kerja berhenti, dan ruangan hening, hanya ada dirinya dan pikirannya sendiri — yang penuh suara-suara tak terdengar: cemas, marah, dan lelah yang tak tahu arah.

Ia sering membentak sopir ojek online kalau telat. Ia bersikap sinis pada junior kerja yang lambat belajar. Ia bahkan pernah membatalkan janji dengan sahabatnya hanya karena mood-nya sedang buruk. Tapi toh semua memaafkan — karena, ya, Reno ‘sibuk dan sukses’.

Suatu hari, dalam perjalanan pulang kerja, ia melihat seorang anak laki-laki kecil, kira-kira umur delapan tahun, berdiri di pinggir jalan. Wajahnya kusut. Di tangannya ada sebuah kotak penuh gorengan. Reno memperlambat langkah. Hujan gerimis mulai turun.

“Kak… beli satu, Kak,” ucap anak itu.

Reno menggeleng cepat dan melanjutkan jalan. Tapi langkahnya terhenti. Entah kenapa, ia menoleh lagi.

“Kamu jualan sendiri?”

Anak itu mengangguk. “Buat bantuin Ibu. Ibu lagi sakit.”

Reno akhirnya membeli lima gorengan, memberinya uang lebih, lalu berdiri sejenak di sana. Bukan karena kasihan. Tapi karena ada sesuatu dalam cara anak itu bicara — tangguh, tapi lembut. Kuat, tapi tetap sopan.

Di tengah segala ‘kedewasaan’ yang Reno banggakan, bocah ini — yang belum cukup umur untuk memilih hidupnya sendiri — justru menunjukkan kedewasaan sejati: kesadaran bahwa hidup tak hanya tentang diri sendiri.

Malam itu, Reno membuka buku harian lamanya. Ia membaca tulisan saat ia berusia 17 tahun:

"Aku ingin jadi orang dewasa yang bijak, bukan cuma sibuk."

Ia tersenyum pahit. Sejak kapan ia berubah? Sejak kapan ambisi jadi tameng untuk menutupi rasa takut dan ketidaknyamanan menghadapi diri sendiri?

Esok harinya, ia datang ke kantor lebih pagi dari biasa. Ia menyapa satpam dengan senyum, menyalami juniornya dengan jabat tangan hangat, dan bahkan membantu rekan kerjanya yang sedang kesulitan memahami laporan klien. Semua orang sempat bingung — tapi mereka senang.

Di akhir hari, ia menghubungi sahabatnya yang sudah lama ia abaikan. Mereka bertemu di kedai kopi kecil yang dulu sering mereka datangi.

“Far,” kata sahabatnya pelan, “kamu kelihatan beda. Lebih… tenang.”

Reno tertawa kecil. “Aku baru sadar, jadi dewasa itu bukan cuma soal gaji naik atau bisa bayar listrik sendiri. Tapi soal cara kita bersikap ke orang lain. Bahkan ke diri sendiri.”

Sahabatnya mengangguk pelan. “Itu baru Reno yang aku kenal dulu.”

Dewasa itu bukan tentang bisa menyetir mobil atau punya KTP. Bukan soal kerja di gedung tinggi atau punya rencana lima tahun ke depan.

Dewasa itu tentang sadar kapan harus bicara, dan kapan mendengarkan. Tentang tahu bahwa otak bukan hanya untuk hitungan logis, tapi juga empati dan pertimbangan.Tentang tata krama — bukan sekadar formalitas, tapi bentuk penghormatan pada hidup, pada orang lain, dan pada diri sendiri.

Reno masih berjalan di jalan yang sama tiap hari. Tapi kini, langkahnya tak lagi hampa. Ia membawa lebih dari sekadar tas kerja dan ponsel canggih. Ia membawa otaknya, membawa hatinya, dan yang paling penting — membawa tata kramanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reno benar-benar merasa dewasa.

Posting Komentar

0 Komentar