Orang Kecil Jangan Pesimis, Surga Bukan Hanya untuk Orang-orang Besar

 



Perihal kecil atau besar di zaman begini ternyata tidak hanya soal ukuran. Nyatanya juga menyangkut soal status sosial. Begitu kata netizen di media sosial. Kecil diartikan status rendahan atau orang miskin. Sementara orang besar dianggap orang berada yang hidup dengan bergelimang harta.

Kata netizen ini bisa jadi benar. Orang kecil atau orang besar zaman sekarang memang seperti diukur dari materi alias ekonomi. Hingga identik dengan status sosialnya. Orang-orang kecil menjadi yang terpinggirkan. Sedangkan orang besar dapat berbuat sesuka hati. Seperti kasus Mario Dandy yang merupakan anak pejabat pajak yang menganiaya seorang anak. Mirisnya orang-orang kecil zaman sekarang.

Kalau kita melihat perhitungan dari SMERU, dengan mengacu pada data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), per 2023, ada sekitar 78 juta orang Indonesia yang termasuk kategori rentan miskin atau sekitar tiga kali lipat dari jumlah orang miskin saat ini. Sementara, berdasarkan perhitungan Bank Dunia, per 2022, penduduk miskin di Indonesia semestinya ada 44 juta orang.

Orang-orang kecil jika dilihat dari sisi kelas masyarakat, maka mereka termasuk golongan masyarakat kelas bawah. Dimana masyarakat kelas ini memperoleh pendapatan atau tingkat sosialnya sangat rendah. Sehingga menjadikan mereka sebagai orang miskin. Sampai-sampai pemerintah harus memberikan label didepan rumah orang-orang miskin itu.

Label yang dimaksud yaitu label yang diberikan bagi “keluarga miskin” penerima bantuan dari pemerintah. Biasanya berupa cap atau gambar tulisan yang ada di dinding rumah bagian depan. Kalau yang dicap rumahnya memang layak dicap sih tidak masalah. Nah ini kadang masih ditemukan orang yang rumahnya mewah juga ternyata ikut dicap.

Seakan tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki. Orang-orang seperti ini termasuk orang-orang yang tidak mampu untuk bersyukur. Progam dari pemerintah yang notabene ditujukan untuk orang kecil pun orang besar tetap ingin ikut memperolehnya.

Entah pemerintah memiliki maksud dan tujuan yang bagaimana. Sebagai masyarakat yang baik ya ikut mematuhi saja. Percaya bahwa program yang dilakukan oleh pemerintah adalah program yang baik untuk masyarakat. Paling penting jangan buat orang kecil makin susah saja sih.

Ngomong-ngomong tentang orang-orang kecil seperti kita ini, sebenarnya mereka tidak lepas dari pergolakan batin. Bagaimana tidak? mereka harus berjuang melawan rasa iri dan dengki. Melihat orang-orang besar disekitar mereka hidup enak, nyaman, dan juga damai. Bisa beli apa saja yang diinginkan. Hidup dirumah mewah, punya mobil, punya bisnis bercabang-cabang, bahkan istrinya banyak pula. Siapa yang tidak mau kan?

Kalau orang-orang besar mau pamer kehebatan, pamerlah dengan orang-orang yang selevel dengan Anda dan yang lebih dari Anda. Tapi jangan coba-coba menasehati dan bergaya dengan orang-orang kecil dan para petani. Sama saja seperti Anda mengejek mereka.

Orang-orang kecil akhirnya hanya bisa pesimis. Mereka kemudian menyalahkan diri mereka sendiri. Memiliki pandangan negatif terhadap kondisi mereka. Seperti mudah menyerah, tidak percaya diri, dan memilih menyerah sebelum mencoba.

Pesimisme sebenarnya bukan suatu sifat yang diinginkan oleh kebanyakan orang termasuk orang-orang kecil. Hal itu karena sifat pesimisme seringkali dihubungkan dengan hal-hal yang negatif, ya seperti depresi, dan juga gangguan suasana hati lainnya. Akan berdampak buruk jika orang-orang terus melanggengkan sifat pesimis ini.

Hati mereka ini harus diisi dengan iman dengan mengerjakan segala kebaikan dan banyak bermanfaat kepada sesama serta jangan pesimis dengan kondisi yang ada, tetap optimis untuk melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajiban mereka. Tidak ada kekuatan bagi mereka dalam hidup ini kecuali kekuatan untuk beribadah kepada Allah Swt.

Menyoal beribadah kepada Allah, orang-orang besar memang lebih diuntungkan karena mendapat bekal di dunia. Namun bukan berarti orang-orang kecil tidak bisa berbuat sama seperti yang dilakukan oleh orang yang serba ada. Orang-orang kecil mampu bersaing untuk urusan akhirat. Tapi ini bukan soal persaingan dalam konotasi negatif loh.

Berbicara soal bersedekah nih misalkan, orang kecil pun bisa bersedekah walaupun nominalnya kecil. Maka esensi atau nilai dari bersedekah itu mereka akan tetap mendapatkannya. Maka jangan pesimis jadi orang kecil, karena surga tidak hanya untuk orang-orang besar. Bahkan dalam Hadist riwayat Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, Rasulullah saw. menyatakan bahwa orang-orang miskin akan lebih dahulu masuk surga ketimbang orang kaya. Karena mereka terhindar dari hisab harta.

“Dari Abdullah bin Umar ra, ia bercerita, orang-orang miskin dari kalangan muhajirin mengadu kepada Rasulullah atas kelebihan yang Allah anugerahkan kepada orang-orang beriman yang kaya. Rasulullah bersabda: Wahai orang-orang miskin, maukah kuberikan kabar gembira kepada kalian? Sungguh, orang-orang beriman yang fakir kelak akan masuk surga terlebih dahulu setengah hari yang setara 500 tahun lamanya daripada orang kaya”.

Wallahu’alam.

Posting Komentar

0 Komentar