"Kekayaan, umur dan ketenaran itu seperti minum dari air lautan yang asin. Semakin kau minum, semakin haus yang kamu dapatkan." dari Syeikh Ahmad Musa Jibril.
Seringkali manusia dihadapkan dengan keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Dimana jabatan, harta, kekuasaan menjadi ujung dari keinginan yang hendak dicapai. Demi mencapai itu semua, kadang manusia rela terjerumus pada hal-hal yang haram demi mendapatkan kebahagiaan hidupnya. Manusia akan merasa bahagia bukan main atas apa yang dimiliki, bahkan dengan sengaja untuk mempertontonkannya (pamer). Manusia lupa bahwa kebahagiaan hidup bukan hanya soal memiliki jabatan, harta yang melimpah, dan kekuasaan saja.
Kebahagiaan hidup erat kaitannya dengan bagaimana manusia dapat menikmati hidupnya. Maka kebahagiaan lain yang dimaksud adalah apa yang manusia belum mampu merasakannya. Rezeki yang Allah Swt. berikan beragam dan cara untuk mendapatkannya pun beragam. Rezeki itu bisa berupa harta materi, seperti harta benda, uang, kendaraan, rumah, kebun, peternakan. Bisa juga non materi, seperti kebahagiaan, kesehatan, kecerdasan, ketentraman dan ridha Allah swt.
Saat ini juga kita rasakan banyak manusia yang mementingkan kuantitas dari pada kualitas harta. Manusia modern mementingkan jumlah daripada berkah harta yang dimiliki. Ini terlihat dari orientasi hidup dan prinsip manusia saat ini yang beranggapan bahwa hidup dan rezeki adalah matematika yakni satu tambah satu sama dengan dua.
Padahal rezeki dalam kehidupan ini tidak bisa dihitung dengan ilmu matematika. Dalam hidup terkadang 1+1 memang 2, namun bisa saja 1+1=11 atau 1+1 bisa jadi 0. Banyak yang bermodal besar tapi tidak mendapat untung besar dalam usaha. Sementara banyak yang usaha kecil tapi rezeki terus mengalir. Itu adalah rahasia Allah Swt.
Bayangkan, bagaimana rasanya jika harta banyak namun tidak bisa menikmatinya karena sakit-sakitan. Bagaimana rasanya jika jabatan tinggi namun hati tidak merasa tenang. Oleh karenanya, sebagai seorang makhluk, kita harus menyadari bahwa ada yang memiliki segalanya dari kita dan berhak atas segala perjalanan kehidupan kita di dunia ini yakni sang khalik, sang Pencipta, Allah Swt.
Maka ini soal bagaimana kita sebagai manusia dapat menangkap setiap kenikmatan yang hadir. Kita perlu meningkatkan kesadaran kita terhadap kehidupan dunia. Almarhum KH. Munaji Pengasuh Pondok Pesantren Assahil Lampung mengungkapkan bahwa ada tiga jalan untuk menggapai kenikmatan hidup.
Pertama yaitu kita perlu bersyukur. Sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS Surat Ibrahim ayat 7, yang intinya jika kita bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat kepada kita. Namun jika kita mengingkari azab Allah Swt. sangatlah berat.
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Rezeki yang diberikan oleh Allah Swt. selalu utuh. Tidak dikurangi dan tidak ditambah. Apa yang kita terima saat ini adalah rezeki yang kita miliki. Kita diminta untuk mensyukuri rezeki agar nikmat dari rezeki itu bertambah. Bukan kemudian jumlah yang kita terima pada saat ini yang bertambah.
Kedua yaitu sabar. Dalam mengarungi kehidupan di dunia, pasti kita akan mendapatkan ujian dan cobaan yang mungkin begitu berat. Sabar menjadi jalan bagaimana kita harus tetap bertahan atas apa yang telah menimpa diri kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS Al-Baqarah ayat 153.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Terakhir yaitu kita harus senantiasa bersholawat kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Dalam hadits dijelaskan, ketika Allah swt menciptakan "Nur" (cahaya) Nabi Muhammad saw, yakni sebelum penciptaan alam semesta ini, Allah merasakan senang yang amat luar biasa. Maka dalam Al-Quran, Surat Al Ahzab ayat 56 disebutkan:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Bagaimana kemudian kita sebagai manusia dapat menangkap setiap kenikmatan yang hadir melalui tiga jalan yang sudah disebutkan di atas. Maka seharusnya kita dapat menggapai kenikmatan hidup. Dengan kesadaran kita memahami Kebesaran Allah Swt. yang tak terhingga dalam memberikan rezekinya kepada setiap manusia. Jika suatu derita mampu membuat kita bersedih, maka ingatlah banyak kenikmatan yang bisa membuat kita tersenyum. Tetaplah husnudzon kepada Allah Swt.
Wallahu’lam..

0 Komentar