Di sebuah desa terpencil, tersembunyi di kaki pegunungan yang hijau, terdapat sebuah mata air yang jernih dan sejuk. Mata air itu begitu berharga bagi penduduk desa karena menjadi sumber kehidupan mereka. Setiap pagi, penduduk desa berbondong-bondong mengambil air dari mata air itu untuk kebutuhan sehari-hari.
Di dekat mata air, tinggallah seorang lelaki tua bernama Ki Lupus. Ia adalah penjaga mata air tersebut. Setiap hari, Ki Lupus menyambut penduduk desa dengan senyuman ramah dan membantu mereka mengisi ember-ember mereka. Meski usianya sudah renta, Ki Lupus tetap bersemangat dalam menjaga mata air yang menjadi sumber kebahagiaan banyak orang itu.
Suatu hari, datanglah musim kemarau yang panjang. Mata air mulai surut, dan penduduk desa semakin khawatir. Mereka bergantung pada mata air untuk bertahan hidup, dan jika mata air mengering, mereka akan menghadapi kesulitan besar. Ki Lupus merasakan kekhawatiran itu dan memutuskan untuk mencari cara agar mata air tetap mengalir.
Ki Lupus berdoa kepada Sang Pencipta dan memohon mendapat petunjuk. Suatu malam, dalam tidurnya, Ki Lupus bermimpi didatangi oleh sosok leluhur desa itu. Leluhur itu berkata, "Ki Lupus, mata air ini mengalir dari hati yang tulus dan penuh cinta. Jika kau ingin mata air ini tetap mengalir, kau harus mencari air mata dari orang-orang yang penuh kasih."
Esok harinya, Ki Lupus menceritakan mimpinya kepada penduduk desa. Mereka bingung dan bertanya-tanya bagaimana mungkin air mata bisa menjadi solusi. Ki Lupus pun akhirnya dianggap seperti orang gila. Mengada-ada soal solusi mata air yang surut di desa. Masyarakat mengolok-oloknya dengan girang.
Ki Lupus tetap dengan ceritanya itu. Walaupun ia kesana-kemari dikucilkan oleh tetangganya, Ki Lupus hanya tersenyum dengan terus menceritakan mimpi yang ia alami. Menurut Ki Lupus mimpi itu adalah petunjuk dari Sang Pencipta yang dikirim melalui mimpi dan menjelma bak leluhur desa.
Setelah lama air tak kunjung mengalir, masyarakat desa semakin bingung dan menambah beban pikiran dalam hidupnya. Bagaimana tidak, mata air yang menjadi sumber kehidupan seluruh masyarakat desa yang dimanfaatkan baik secara ekologis, sosial, maupun ekonomi itu tidak hadir membersamai mereka. Akhirnya, masyarakat desa percaya kepada Ki Lupus dan bersedia mencoba.
Penduduk desa berkumpul di sekitar mata air. Mereka mulai mengenang momen-momen indah dan mengharukan dalam hidup mereka. Beberapa orang menceritakan kisah cinta, persahabatan, dan pengorbanan. Perlahan-lahan, air mata mereka mulai menetes, jatuh ke dalam mata air.
Keajaiban pun terjadi. Mata air yang mulai surut perlahan-lahan kembali mengalir dengan deras. Penduduk desa terkejut dan bahagia melihat mata air yang kembali jernih dan segar. Mereka menyadari bahwa cinta dan kasih sayang yang mereka miliki untuk satu sama lainlah yang menjaga mata air tetap hidup.
Ki Lupus tersenyum melihat keajaiban itu. Ia berkata, "Mata air ini adalah cerminan dari hati kita. Selama kita memiliki cinta dan kasih sayang, mata air ini akan terus mengalir dan memberi kehidupan."
Sejak saat itu, penduduk desa tidak hanya mengambil air dari mata air, tetapi juga memberikan cinta dan kasih sayang mereka. Mereka belajar bahwa kehidupan tidak hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga pada hubungan dan perasaan yang tulus.
Mata air dan air mata menjadi simbol kekuatan cinta di desa itu. Setiap kali mereka menghadapi kesulitan, mereka mengenang kisah Ki Lupus dan keajaiban mata air, dan mereka selalu menemukan cara untuk saling mendukung dengan penuh kasih.
Dan mata air itu, seperti air mata mereka, terus mengalir tanpa henti, membawa kehidupan dan kebahagiaan bagi desa yang penuh cinta tersebut.
.jpg)
0 Komentar