Tidak merasa kenyang walaupun sudah makan banyak, apakah hal ini wajar? Ternyata ada banyak alasannya loh. Mulai dari kondisi medis, kondisi genetik, hingga masalah kesehatan emosional seperti stres.
Kondisi medis yang sering ditemukan yaitu terkait dengan masalah diabetes. Bagi yang tidak merasa kenyang walaupun sudah makan banyak, perlu nih untuk berhati-hati. Karena tidak merasa kenyang dan selalu ingin makan menjadi salah satu tanda utama penyakit diabetes.
Menurut Dokter Fatimah Eliana Taufik yang merupakan Dokter Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, menerangkan bahwa otak kita menghasilkan neurotransmitter yang menyebabkan rasa lapar dan kenyang. Sedangkan Diabetes membuat neurotransmitter, senyawa kimia pembawa pesan antar sel saraf, terganggu sehingga pasien menjadi mudah lapar dan seakan sulit untuk merasa kenyang.
Selain itu juga ada kondisi genetik langka lainnya yang juga dapat menyebabkan kita tak mampu untuk merasa kenyang. Misalnya, Defisiensi Leptin Bawaan yang merupakan kelainan genetik langka yang mempengaruhi hormon yang membuat otak mengetahui bahwa kita kenyang.
Membahas tentang manusia yang tidak merasa kenyang karena makanan mungkin menjadi hal yang umum. Walaupun penyakit diabetes sendiri menjadi penyakit yang mengerikan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. Namun, bagaimana dengan manusia yang tidak pernah merasa kenyang karena keserakahan? Ini juga menjadi hal yang selalu menjadi topik hangat yang harus selalu dibahas.
Keserakahan menjadi bentuk perilaku kita yang tidak pernah merasa cukup atas segala nikmat yang telah didapatkan. Keserakahan menjadi kotoran batin yang ada dalam diri kita dan timbul karena adanya keinginan untuk memilikinya secara berlebihan. Keserakahan ini jelas akan mengakibatkan penderitaan bagi diri kita sendiri maupun orang lain.
Jika kita dikuasai oleh keserakahan maka tentu akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya. Misal saja seperti membunuh, merampas, menipu, dan mengambil barang yang bukan menjadi hak milik. Seperti yang sedang hangat diberita nasional. Yaitu kasus mega korupsi timah yang merugikan negara hingga 271 Triliun.
Kecenderungan manusia yang diliputi keserakahan beranggapan bahwa ketika kita mendapat sesuatu yang berlebih, maka itu akan membantu hidup lebih bahagia. Anggapan tersebut mungkin benar adanya, akan tetapi kebahagiaan yang diperoleh hanyalah bersifat sementara. Apalagi sesuatu yang didapatkan tersebut diperoleh dengan cara-cara yang kotor dan merugikan banyak orang, sehingga cepat atau lambat akan berakibat buruk bagi diri sendiri.
Membiarkan keserakahan yang ada dalam diri kita tentu tidak akan pernah ada habisnya. Apa yang kita miliki, fasilitas yang kita peroleh, maupun sesuatu yang semestinya kita terima tidak mampu meredam manusia yang diliputi keserakahan. Manusia yang diliputi keserakahan selalu akan mencari celah agar mendapatkan sesuatu yang lebih. Akhirnya kita mengabaikan nilai-nilai kejujuran untuk memperoleh sesuatu yang lebih dari yang semestinya kita terima.
Keserakahan ini sebenarnya sama seperti penyakit diabetes yang hingga saat ini sulit untuk disembuhkan, tapi bisa dikontrol dengan baik bahkan tanpa obat bila seseorang menjalankan gaya hidup baik. Begitupun penyakit hati karena keserakahan. Kita perlu untuk mengubah kebiasaan hidup kita dengan selalu mensyukuri nikmat yang telah Allah Swt. berikan dan berdo’a agar dijauhkan dari sifat serakah.
Lebih baik kita memiliki rasa kenyang dalam hal menuntut ilmu daripada tidak memiliki rasa kenyang karena keserakahan ingin menggenggam dunia. Ilmu agama akan menjaga dan melindungi kita di dunia dan di akhirat. Sedangkan harta tidaklah bisa melindungi kita, bahkan kita yang akan disibukkan dengan menjaga dan memeliharanya. Manusia yang tidak memiliki rasa kenyang juga terdapat dalam HR. Hakim.
Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda, “Ada dua orang yang tidak pernah merasa kenyang, (yaitu) penuntut ilmu agama dan pencari dunia.” (HR. Hakim).
Wallahu'alam.

0 Komentar