Nikmat atau kenikmatan dalam Islam merupakan hal yang merujuk pada sebuah kebahagiaan atau kesenangan. Maksudnya adalah sesuatu hal yang diberikan oleh Allah Swt. kepada hambaNya baik itu yang sedikit maupun banyak. Kenikmatan selalu hadir dikehidupan setiap manusia. Baik itu kenikmatan yang diterima langsung atau kenikmatan yang nantinya akan diterima dikemudian. Sebenarnya manusia sudah mendapatkan dan bahkan sering mendapatkan kenikmatan yang luar biasa, yang kenikmatan tersebut tanpa disangka-sangka atau tanpa diminta.
Menurut M. Quraish Shihab, nikmat itu searah dengan kenyamanan hidup manusia. Nikmat menghasilkan keadaan bahagia dan tidak mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif, termasuk materi dan non materi. Kata tersebut mencakup keutamaan dunia dan akhirat. Maka dari itu nikmat erat kaitannya dengan rasa syukur.
Syukur adalah bentuk ungkapan rasa terima kasih dan pengakuan atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. Syukur sangat ditekankan sebagai kesadaran akan kebesaran Allah. Syukur juga merupakan bentuk sebuah ibadah. Selain itu syukur bisa menjadi kunci kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup manusia, karena dengan bersyukur seseorang dapat memperoleh kepuasan dan rasa bahagia yang mendalam atas segala nikmat yang diberikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, bersyukur dapat ditunjukkan dengan mengucapkan kata-kata seperti alhamdulillah, terima kasih, berdoa, atau menggunakan nikmat yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Sesuai dengan firman Allah Swt yaitu:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan hikmah kepada Lukman, yaitu nikmat syukur kepada Allah. Barang siapa yang bersyukur kepada Allah maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur maka Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12).
Mensyukuri nikmat yang datang dari Allah Swt. adalah sebuah hal yang harus selalu dilakukan. Bagaimana kemudian manusia dapat mengambil inti sari dari kenikmatan memiliki rasa syukur pada setiap hal yang menghampiri. Nikmat sendiri terdiri dari beberapa macam. Pertama nikmat fitriyah, adalah nikmat yang ada pada diri kita sendiri. Kedua, nikmat iktiyariyah yaitu berupa nikmat dari usaha kita. Ketiga, nikmat Alamah adalah nikmat alam sekitar kita. Keempat, nikmat Diniyah yaitu nikmat agama Islam dan nikmat iman.
Manusia sebagai seorang hamba, tidak luput dari sebuah kesalahan. Kurangnya rasa syukur seringkali menutupi hati dan pikiran manusia. Sehingga tidak mampu mencari titik dari rasa syukur yang harus dirasakan. Akhirnya gelap hati menyelimuti. Jika tidak datang sebuah kenikmatan, maka enggan untuk bersyukur. Padahal Allah Swt. sudah mengingatkan dalam firmanNya:
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim : 7)
Bagaimana jika bersyukur itu menjadi sebuah kenikmatan atau yang perlu dinikmati itu sendiri? Ini adalah soal menyadari dan memaknainya dengan baik. Maka kenikmatan itu datang atau tidak, bahkan tertimpa permasalahan sekalipun orang akan tetap kokoh berdiri. Menikmati kehidupan dengan penuh kebahagiaan. Itulah nikmatnya bersyukur. Yang sering lepas dari kita bukan soal mengetahuinya, tapi menyadari dan memaknainya. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan". Dengan kesyukuran itu menjadi kunci kenikmatan yang sungguh luar biasa. kenikmatan yang kita anggap kecil dan biasa, akan membuahkan rasa syukur dan kenikmatan yang luar biasa apabila kita sadari dan hayati pada diri setiap orang.
Wallahua'lam bishowab

0 Komentar