![]() |
| Foto: NU Online |
Disebuah Desa dengan penghuni yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, hadir Kyai Jarot yang dituakan di Desa itu. Kyai Jarot pun lebih dipatuhi perkataannya dibandingkan dengan Kyai atau Ustad yang benar-benar paham agama. Kyai Jarot merupakan sosok yang memiliki pengaruh yang luar biasa besar. Saking besarnya, Kyai Jarot mampu mengusir LSM dari proyek-proyek yang ada di Desa itu. Termasuk proyek yang ia sedang garap sendiri.
Kyai Jarot memang terkenal dekat dengan para pejabat dengan menjual agama. Mulai dari pejabat daerah hingga pejabat pusat. Kyai Jarot ini termasuk orang yang memiliki label “dekengane pusat” dalam tanda kutip. Selain mudah mendapatkan cipratan melalui adanya proyek, ia juga punya power yang besar karena kedekatannya dengan para pejabat itu.
Kyai Jarot aktif mengisi pengajian di Desanya maupun diluar dari Desanya. Menjadi aktivitas rutin yang biasa Kyai Jarot lakukan. Sering Kyai Jarot dipanggil untuk mengisi pengajian, sampai isi pesan pengajiannya pun bisa request tergantung yang memiliki hajat. Kalau yang memiliki hajat sedang ada masalah dengan orang tentang hutang piutang, kadang isi materi pengajiannya ya tentang hutang-piutang sampai dengan azabnya jika hutang tidak dibayar tuntas.
Kyai Jarot ini sudah memiliki dua istri dan lima orang anak. Tiga anak dari istri pertama, dan yang lain dari istri yang kedua. Hebatnya, Kyai Jarot masih ingin memiliki istri lagi dan tanpa diketahui oleh kedua istrinya. Keinginan Kyai Jarot ini telah diselipkan melalui do’a-do’a yang selalu ia panjatkan ketika sholat berjamaah bersama kedua istri dan kelima anaknya itu.
Kyai Jarot mengucapkannya dengan Bahasa Arab, umumnya berdo’a setelah selesai sholat. Kedua istri Kyai Jarot yang bukan lulusan pondok pesantren dan otomatis tidak tahu arti dari Bahasa Arab hanya mengucapkan “amiin-amiin” saja. Dalam benak Kyai Jarot bergumam “alhamdulillah..” Tidak heran sekarang Kyai Jarot memiliki dua istri. Kyai Jarot memang cerdik, ia memilih istri bukan dari golongan pesantren. Mengingat Kyai Jarot ini Kyai jalur karbitan. Alias tidak mondok tapi dipanggil Kyai. Ia takut kalau istrinya lebih pintar soal agama dari padanya.
Kyai Jarot hidup berdampingan dengan banyak elemen masyarakat, salah satunya adalah ormas Islam. Kyai Jarot memiliki putra bernama Jamal. Merupakan putra Kyai Jarot yang paling kecil. Suatu hari, Jamal anak bontot Kyai Jarot bersama teman-temannya biasa melantunkan sholawat setelah adzan berkumandang di mushola-mushola Desa. Pada saat itu, Jamal bersama teman-temannya hendak bersholawat di mushola yang tidak membiasakan sholawat setelah adzan.
Karena tidak diperbolehkan. Jamal dan teman-temannya ini pulang ke rumah Kyai Jarot. Kyai Jarot yang mengetahui terkait hal itu setelah diberi tahu oleh anaknya tak ambil pusing. Ia nyalakan sound sistem di dalam rumahnya yang tak kalah keras dengan pengeras suara milik mushola. Dan Jamal bersama teman-temannya ini pun langsung melantunkan sholawat dengan riang gembira. Rumah pun berasa seperti mushola Desa.
Kyai Karbitan memang tepat disandarkan kepada Kyai Jarot. Dimana fenomena yang terjadi seperti Kyai Jarot ini sudah marak dikehidupan masyarakat Indonesia, "ketoke ngaji tapi dodol agama", bisa dengan mudah kita saksikan di zaman ini. Terlebih, dengan teknologi mampu mencitrakan sebuah sosok-sosok agamawan yang begitu terkenal di media sosial. Fatwa-fatwa para kiai medsos ini seringkali lebih didengar dan dipatuhi daripada para ulama sejati.
Cerita diatas merupakan cerita fiktif, dan tidak bermaksud menyinggung pihak manapun.

0 Komentar