Berhenti Menggenggam Bara Idealisme



Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa idealisme adalah kompas utama kehidupan. Dari bangku sekolah, seminar-seminar mahasiswa, hingga diskusi di warung kopi, kata “idealisme” hadir sebagai simbol keberanian, moralitas, dan perjuangan. Ia seperti bara api—menyala di dalam dada, membakar semangat, dan kadang, membakar tangan. Tapi aku bertanya hari ini: sampai kapan bara itu harus terus digenggam?

Ada masanya aku percaya bahwa menggenggam bara itu adalah bentuk pengabdian. Bahwa rasa sakitnya adalah konsekuensi yang pantas dari sebuah perjuangan suci. Bahwa lebih baik terbakar karena memegang prinsip, daripada dingin karena menyerah pada kompromi. Namun, waktu mengajari hal yang tak sempat diajarkan oleh buku-buku motivasi: bahwa idealisme tanpa strategi bisa berubah menjadi luka permanen. Bahwa keberanian tanpa kebijaksanaan hanya menjerumuskan diri ke dalam kehancuran.

Banyak dari kita—terutama yang pernah hidup dalam dunia aktivisme, perubahan sosial, atau ruang-ruang perlawanan—telah meromantisasi penderitaan sebagai bukti kesetiaan pada nilai. Kita anggap mereka yang bertahan paling lama dengan prinsipnya adalah yang paling benar. Tapi benarkah demikian? Apakah nilai-nilai itu benar-benar hidup jika hanya jadi alasan untuk terus terluka? Atau jangan-jangan kita hanya takut dituduh ‘berubah’, takut disebut ‘berhenti berjuang’, hingga enggan mengakui bahwa realitas tidak selalu hitam dan putih?

Berhenti menggenggam bara idealisme bukan berarti menyerah pada kenyataan. Ia bukan bentuk kekalahan, tapi kebijaksanaan. Melepaskan bara bukan untuk membuang nilai, tapi agar tangan kita tak lagi terbakar—agar bisa membangun sesuatu yang lebih nyata dengan kedua tangan yang utuh. Kita lupa bahwa idealisme bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang kemampuan beradaptasi. Tentang tahu kapan berbicara dan kapan mendengar, kapan berdiri dan kapan melangkah mundur sejenak untuk melihat gambaran lebih luas.

Dalam hidup nyata, dunia tak bergerak dengan idealisme murni. Ia bergerak dengan tawar-menawar, ketegangan antara cita-cita dan kompromi, antara prinsip dan strategi. Mereka yang bisa menyeimbangkan keduanya adalah mereka yang benar-benar membuat perubahan. Maka ketika seseorang memutuskan berhenti menggenggam bara, jangan langsung menuduhnya menjual prinsip. Bisa jadi, ia sedang belajar mengubah bara itu menjadi cahaya—bukan luka.

Ada titik di mana seseorang mulai bertanya: apakah yang kulakukan ini masih memberi dampak, atau hanya menyiksa diri demi ideal yang tak pernah didengar? Apakah perjuanganku ini masih relevan, atau hanya nostalgia atas romantisme masa lalu? Di titik itulah kita bertemu dengan versi diri yang lebih jujur. Versi yang tak lagi ingin terlihat heroik, tapi ingin benar-benar berguna.

Melepas genggaman bukan berarti memadamkan api. Itu bisa jadi langkah untuk memindahkan bara ke tempat yang lebih tepat—kompor untuk memasak ide, obor untuk menerangi jalan, atau bahkan api unggun tempat orang-orang bisa berkumpul dan saling menguatkan.

Akhirnya, aku belajar bahwa idealisme sejati tak selalu berbentuk teriakan lantang atau perlawanan frontal. Kadang ia hadir dalam kerja diam-diam, dalam kompromi bijak, dalam keputusan untuk beristirahat sejenak agar bisa bertahan lebih lama. Dan tak semua orang bisa memahami itu. Tapi mereka yang benar-benar berjalan jauh dalam hidup tahu: menggenggam terus bara yang membakar hanya akan menyisakan tangan yang hangus dan tak lagi mampu menggenggam apa pun.

Jadi, hari ini aku memilih berhenti menggenggam bara idealisme. Bukan karena aku kalah, tapi karena aku ingin menang dengan cara yang lebih bijak. Bukan karena aku lelah berjuang, tapi karena aku ingin memastikan perjuanganku tetap punya makna.


Posting Komentar

0 Komentar