| Foto: Sastrajingga |
Malam itu, sebuah kafe kecil di sudut kota menjadi saksi pertemuan lima sahabat lama. Mereka adalah Sarah, Dinda, Nia, Rina, dan Wulan—sekelompok mahasiswi yang kembali bertemu setelah bertahun-tahun berpisah sejak SMA. Reuni kecil itu terasa hangat, penuh canda tawa, dan sesekali diwarnai tangis yang tak bisa dibendung.
Setelah hidangan pembuka disantap dan obrolan ringan menghangatkan suasana, satu per satu mereka mulai menceritakan kisah yang membawa mereka pada titik ini dalam hidup.
Sarah, yang pertama berbicara, menitikkan air mata kebahagiaan. Ia bercerita tentang perjuangannya meraih beasiswa di luar negeri. "Aku pikir aku tidak akan pernah bisa mencapai impianku. Tapi, berkat dukungan keluarga dan tekadku sendiri, aku berhasil!" katanya dengan suara bergetar. Rina, yang duduk di sebelahnya, menepuk pundaknya dengan bangga.
Kemudian giliran Dinda. Ia tersenyum getir sebelum mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompetnya. "Ini ibuku. Tahun lalu, beliau meninggal karena sakit," ujarnya lirih. Tangannya bergetar, dan matanya mulai berkaca-kaca. "Aku rindu beliau... sangat rindu. Tidak ada lagi yang menanyakan apakah aku sudah makan atau belum setiap malam." Suasana mendadak sunyi. Wulan menarik Dinda ke dalam pelukannya, mencoba memberikan sedikit ketenangan.
Lalu, ada Nia. Ia menatap kosong ke cangkir kopinya sebelum akhirnya berkata, "Aku tak pernah menyangka hidup akan seberat ini." Suaranya pelan, hampir tak terdengar. "Ayahku bangkrut. Aku harus bekerja sambil kuliah. Kadang aku merasa ingin menyerah, tapi aku tahu aku harus terus bertahan." Air matanya jatuh, tetapi ada kekuatan dalam suaranya.
Mereka semua saling menggenggam tangan, memberikan kehangatan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Malam itu, mereka menangis bersama—ada yang menangis karena bahagia, ada yang menangis karena kerinduan, dan ada pula yang menangis karena pahitnya kehidupan. Namun satu hal yang pasti, persahabatan mereka tetap utuh. Seperti malam itu, mereka akan selalu ada untuk satu sama lain, dalam suka maupun duka.
Rina akhirnya angkat bicara. "Aku... aku juga punya cerita," katanya dengan ragu. "Aku hampir menikah tahun lalu, tapi tunanganku mengkhianatiku." Ia tersenyum getir. "Aku berusaha tegar, tapi jujur, itu adalah masa-masa terberat dalam hidupku." Semua terdiam, lalu Wulan menggenggam tangannya dengan erat.
Wulan sendiri akhirnya berbagi kisah. "Aku berhasil mencapai impianku menjadi dokter, tapi harga yang harus kubayar sangat mahal. Aku harus mengorbankan waktu bersama keluarga dan kehilangan orang yang kucintai karena kesibukan." Matanya berkabut. "Kadang aku bertanya-tanya, apakah semua ini sepadan?"
Hening sejenak menyelimuti mereka. Malam semakin larut, tapi mereka tak ingin pergi. Ada banyak hal yang ingin mereka bagi, luka yang ingin mereka obati bersama.
Tiba-tiba, Dinda tersenyum dan berkata, "Tapi aku bersyukur, meskipun hidup tidak mudah, kita masih punya satu sama lain. Kita masih bisa tertawa dan menangis bersama, seperti dulu."
Sarah mengangguk. "Ya, hidup mungkin berubah, tapi persahabatan kita tidak akan pernah pudar."
Mereka pun tertawa di sela tangisan mereka, seakan menegaskan bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah bagian dari perjalanan yang harus mereka lalui bersama. Malam itu, di meja reuni kecil itu, mereka menemukan kembali arti persahabatan yang sesungguhnya.
Saat pelayan datang membawa tambahan minuman, mereka memutuskan untuk bersulang. "Untuk kita!" seru mereka bersamaan. Gelas-gelas bertemu di udara, menciptakan dentingan kecil yang seakan menjadi simbol persahabatan mereka yang abadi.
Malam itu, mereka pulang dengan hati yang lebih ringan, membawa harapan bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan selalu punya tempat untuk kembali: meja reuni yang penuh cerita dan air mata kebersamaan
0 Komentar