Hidup sering kali diibaratkan seperti jalan panjang penuh tikungan tajam, tanjakan curam, dan persimpangan yang membingungkan. Di tengah liku-liku itu, ada kisah tentang seorang anak singkong. Julukan yang menggambarkan kerendahan hati dan kesederhanaan hidup. Anak singkong ini tumbuh di pedesaan, memulai perjalanan hidupnya dari ladang sederhana hingga menemukan dirinya di persimpangan besar yang menentukan masa depan.
Anak singkong adalah simbol keberanian dan keteguhan hati. Ia dilahirkan dari keluarga petani, di mana hari-harinya diisi dengan kerja keras di bawah terik matahari. Bukan emas atau harta yang menjadi bekalnya, tetapi nilai-nilai hidup: kerja keras, kejujuran, dan rasa syukur.
Namun, dunia tidak selalu memihak. Anak singkong tahu bahwa untuk melampaui batas-batas desanya, ia harus berani bermimpi besar. Meski kaki tertanam di tanah, pandangannya selalu ke langit. Ia mengayuh sepeda lusuhnya ke sekolah setiap hari, melahap buku-buku yang dibacanya dengan rasa lapar akan ilmu, dan berjuang melawan keterbatasan yang menghadangnya.
Saat dewasa, ia dihadapkan pada persimpangan pertama. Apakah ia tetap tinggal di desa, menjaga tradisi keluarga sebagai petani, ataukah ia melangkah keluar dan mengejar pendidikan tinggi? Persimpangan ini tak mudah, sebab meninggalkan desa berarti meninggalkan orang tua, tanah leluhur, dan kenyamanan hidup sederhana.
Tetapi mimpi adalah api yang tak mudah padam. Dengan doa dan tekad, ia memilih jalan yang jarang dilalui—menempuh pendidikan di kota besar. Di sana, ia menghadapi tantangan baru: kesepian, cemoohan, dan tekanan untuk bertahan hidup. Namun, setiap tantangan justru menguatkan langkahnya.
Setelah menuntaskan pendidikan, dunia kota menawarkan gemerlap karier. Anak singkong ini, yang kini telah menjelma menjadi sosok yang dihormati, dihadapkan pada pilihan baru: apakah ia terus mengejar ambisi pribadinya, ataukah kembali ke desa untuk membangun komunitasnya? Persimpangan ini jauh lebih sulit, karena ia tahu, apa pun yang dipilih akan membawa konsekuensi besar.
Kembali ke desa berarti mengorbankan peluang karier yang menjanjikan. Namun, ia sadar bahwa kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, melainkan juga tentang bagaimana memberikan dampak bagi orang lain. Pada akhirnya, ia memilih jalan pulang, membawa ilmu dan pengalaman untuk memajukan tempat asalnya.
Kisah si anak singkong di persimpangan jalan adalah cerminan perjuangan banyak orang. Hidup tidak pernah memberikan satu jalan lurus; selalu ada pilihan yang harus dibuat, terkadang dengan risiko besar. Namun, seperti si anak singkong, setiap orang memiliki kekuatan untuk memilih jalan yang sesuai dengan nilai dan tujuan hidupnya.
Persimpangan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari babak baru. Anak singkong mengajarkan bahwa keberanian, keteguhan hati, dan rasa syukur adalah peta yang akan menuntun kita di jalan mana pun yang kita pilih.
Jadi, saat Anda menemukan diri di persimpangan jalan, ingatlah: seperti si anak singkong, jalan yang sulit sekalipun dapat membawa kita ke tempat yang indah, asalkan kita melangkah dengan hati yang yakin.

0 Komentar