Di sebuah malam yang dingin dan kelam, di sebuah desa kecil yang terisolasi di ujung hutan hitam, desas-desus tentang sosok yang dikenal sebagai Pelahap Maut menyebar. Makhluk ini digambarkan sebagai bayangan bertopeng dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, melayang tanpa suara di antara pepohonan.
Penduduk desa berbicara dalam bisikan saat matahari mulai tenggelam di balik bukit. Setiap orang tahu bahwa setelah gelap, tidak seorang pun berani melangkah keluar. "Pelahap Maut hanya datang untuk yang tak hati-hati," begitu kata orang tua bijak di desa itu.
Malam itu, seorang pemuda bernama Armand, yang tak percaya pada cerita-cerita rakyat, memutuskan untuk membuktikan bahwa semua itu hanya takhayul belaka. Dengan berbekal lentera minyak dan keberanian yang dipaksakan, ia melangkah ke hutan. Cahaya remang-remang dari lentera menari di pepohonan yang seolah-olah berbisik, memperingatkannya untuk berbalik.
Seiring ia melangkah lebih dalam, angin tiba-tiba berhenti, seakan menahan napas. Suara burung hutan menghilang, digantikan oleh keheningan yang mencekam. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar, bukan dari Armand, melainkan dari sesuatu yang lebih dalam di kegelapan. Jantung Armand berdegup kencang saat ia mengarahkan lentera ke arah suara itu. Cahaya lentera menerangi sosok tinggi dengan mata merah menyala di balik topeng logam mengerikan.
“Siapa di sana?” suara Armand pecah oleh ketakutan. Sosok itu tidak menjawab. Dengan satu gerakan, angin dingin yang menggigil menghantam tubuhnya, membuat lentera di tangannya padam. Kegelapan kini menjadi teman satu-satunya.
Armand hanya mendengar napasnya sendiri dan suara berbisik yang mengisi udara, “Mengapa kau datang, jiwa yang sombong?”
Detik-detik terasa abadi, dan sebelum Armand sempat merespons, ia merasakan sesuatu merayap masuk ke dalam benaknya, seolah-olah kegelapan itu sendiri merampas ingatannya, mimpinya, dan jiwanya. Pagi itu, penduduk desa menemukannya tergeletak di ujung hutan, matanya kosong dan pandangan nanar. Armand kembali, tapi tak pernah lagi bicara. Hanya ada satu kata yang diucapkannya, berulang-ulang.
“Pelahap…”

0 Komentar