Maulana
Habib Luthfi bin Yahya adalah sosok seorang Habib, ulama dan tokoh agama Islam
yang sangat terkenal di Indonesia, terutama di daerah Pekalongan. Bahkan beliau
juga dikenal diluar Indonesia. Beliau dikenal karena kegiatan dakwahnya yang
luas pengaruhnya dalam menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam, memperkuat
ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) serta sikap nasionalismenya
terhadap Tanah Air Indonesia. Maulana Habib Luthfi merupakan Ketua Ulama Sufi
Dunia juga dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)
dan masih banyak lagi yang dipercayakan kepada beliau.
Kiprah
Maulana Habib Luthfi dalam memberikan ceramah, pengajaran agama Islam, dan menginspirasi umat Islam di Indonesia sangat dikagumi, dihargai dan juga diakui oleh banyak kalangan masyarakat Indonesia hingga kediaman beliau tidak pernah
sepi dari tamu-tamu yang ingin bertemu. Tidak heran banyak orang
yang kemudian berkhidmat dan mengikuti Maulana Habib Luthfi. Salah satu orang
yang berkhidmat dan mengikuti beliau adalah Habib Muhdor Admad Assegaf seorang
yang juga habib dan penulis buku Cahaya Dari Nusantara. Buku yang menceritakan
tentang kecintaan dan kekaguman kepada Maulana Habib Luthfi.
Dalam
buku yang ditulis oleh Habib Muhdor itu terdapat cerita tentang bagaimana
berbuka puasa dan sahur yang dilakukan oleh Maulana Habib Luthfi. Dalam bulan
Ramadhan seperti sekarang ini, umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan ibadah
puasa dimana harus menahan lapar, haus dan aktivitas-aktivitas tertentu dari
terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Berbuka puasa dan sahur menjadi
kegiatan yang penting disetiap bulan Ramadhan bagi umat muslim.
Buka
puasa adalah istilah dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada tindakan
mengakhiri puasa pada waktu maghrib dengan mengkonsumsi makanan atau minuman. Ketika
waktu berbuka puasa telah tiba, yang dilakukan Maulana Habib Luthfi terlebih
dulu yaitu mengambil air putih dan berkumur sebanyak tiga kali. Kemudian beliau
berdoa dan menyantap tiga biji kurma yang ukurannya cukup besar. Maulana Habib
Luthfi lalu meminum kopi setelah menyantap kurma dan barulah beliau mengambil
korek api dan merokok. Mengkonsumsi makanan dan minuman lainnya baru beliau
santap setelah shalat tarawih sekitar pukul 22.00 WIB.
Ketika
waktu sahur tiba, makan bersama dengan keluarga besar biasa dilakukan oleh Maulana
Habib Lutfi. Bersama dengan istri, anak, menantu, cucu, santri dan khadim.
Suasana di rumah beliau pun menjadi semarak ditambah menu makanan sahur yang
beraneka macam. Menjelang waktu imsak, Maulana Habib Luthfi kembali menyantap
sama seperti di awal beliau waktu berbuka buka puasa yaitu dengan menyantap tiga
biji kurma. Diakhir kemudian beliau minum air putih hangat yang menjadi
kesukaan beliau. Sahur sendiri merupakan waktu makan atau santap sahur dini
hari sebelum terbitnya fajar untuk memberikan energi selama seharian
menjalankan ibadah puasa.
Begitulah
kebiasaan yang dilakukan oleh Maulana Habib Luthfi dalam kegiatan berbuka puasa
dan sahur di bulan Ramadhan. Banyak dari para habib dan ulama lain yang pasti
memiliki kebiasaan-kebiasaan tersendiri yang dapat dicontoh oleh para
santri-santrinya dan kalangan masyarakat muslim. Seperti kebiasaan yang
dilakukan oleh Maulana Habib Luthfi ini
yang dapat dicontoh dan tentunya memiliki pendidikan ruhaniyah tersendiri.
“Saya
ingin melatih diri saya untuk berpuasa dengan sebenarnya, yakni karena iman;
mengharap rida Allah Swt. dengan menahan nafsu dengan seutuhnya, tanpa
memikirkan apapun saat berbuka.” Begitulah kata-kata dari Maulana Habib
Luthfi yang merupakan jawaban beliau saat ditanya oleh para santrinya terkait
dengan kebiasaan-kebiasaan yang beliau lakukan ketika berbuka puasa dan sahur di
bulan Ramadhan.
Menurut
Maulana Habib Luthfi yang merupakan sosok Ketua Ulama Sufi Dunia ini, puasa
para shalihin, ahli tasawuf dan orang-orang pilihan (khawashul khawas)
memfokuskan perhatiannya tidak hanya pada tataran fikih atau hal-hal yang
membatalkan puasa saja. Melainkan pada hal-hal yang bersifat ruhaniah. Hal-hal
yang dapat merusak pahala dan fungsi disyariatkannya ibadah puasa. Fungsi dan
hakikat dari berpuasa yaitu menahan hawa nafsu dapat menghilang disaat orang
mementingkan merancang makanan berbuka puasa sejak siang ditambah dengan menu
makanan yang bermacam-macam.
Menjadi
perhatian penting bagi masyarakat muslim dalam melaksanakan ibadah puasa
terutama pada saat berbuka puasa dan sahur. Memperhatikan hal-hal yang bersifat
ruhaniah disamping telah selesai dengan hal-hal yang ada ditataran fikih. Agar
fungsi dan hakikat dari berpuasa tidak hilang dan tidak merusak pahala dari
ibadah puasa dibulan suci Ramadhan ini.
0 Komentar