Sejarah Nabi Muhammad Mengajarkan Kebersamaan Dalam Sebuah Perbedaan


Nabi Muhammad saw. merupakan utusan Allah Swt. dan merupakan Nabi yang terakhir.  Membawa pesan "langit" melalui agama Islam untuk para umat manusia. Dalam menyebarkan agama Islam, Nabi Muhammad melaluinya tidak dengan mudah. Banyak rintangan yang Nabi Muhammad harus tempuh. Tetapi, banyak kegemilangan pula yang Nabi Muhammad peroleh dalam menyebarkan agama Islam. Hingga dapat dilihat perkembangan Islam pada saat ini.

Banyak risalah yang menuliskan tentang Nabi Muhammad. Mulai dari awal hingga akhir masa Beliau. Cerita-cerita yang dikemas dengan apik. Berbagai suasana tercipta dalam tulisan baik yang haru maupun yang bahagia. Semua terdapat peristiwa-peristiwa yang tentunya bagi umat Islam perlu untuk memperhatikannya. 

Dalam kitab Khulasoh Nurul Yaqin karya Syekh Umar Abdul Jabbar menjelaskan terkait peristiwa mengesankan yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad. Peristiwa yang mengajarkan kebersamaan dalam sebuah perbedaan. Peristiwa dimana sedang dilakukan pembenahan Ka'bah oleh kaum Quraisy. Pada saat itu Nabi berumur 35 tahun ikut menolong pembenahan bersama pemuka Quraisy dan paman Nabi yang bernama Abbas. 

Mereka para pemuka kaum Quraisy sedang berselisih tentang siapa yang harus meletakkan al-hajarul aswad ditempatnya. Dalam perselisihan tersebut, mereka sepakat bahwa yang berhak meletakkan al-hajarul aswad adalah orang yang pertama masuk Masjidil Haram. Ternyata Nabi Muhammad lah yang pertama masuk ke Masjidil Haram. Para pemuka Quraisy pun berkata "kami ridho kepada orang kepercayaan ini".

Hebatnya Nabi Muhammad dalam mengajarkan kebersamaan dalam sebuah perbedaan adalah dengan Nabi tidak langsung meletakkan batu Hajar Aswad itu sendirian ketempatnya. Melainkan terlebih dulu Nabi meletakkan batu itu di sebuah kain selendang dan meminta tiap pemuka Quraisy supaya masing-masing memegang ujung dari selendang itu. Kemudian Nabi menyuruh mereka untuk mengangkat batu Hajar Aswad bersama-sama. Setelah itu Nabi Muhammad mengambil batu itu dengan tangan beliau sendiri dan meletakkan ke tempatnya. Dengan begitu hilanglah perselisihan dalam penetapan urusan peletakan al-hajarul aswad dalam pembenahan Ka'bah. Kaum Quraisy pun takjub akan kecerdasan fikiran Nabi Muhammad.

Dari peristiwa itu kita belajar bahwa perbedaan tidak akan meruntuhkan sebuah nilai kebersamaan. Kita semua bisa selalu bersama-sama walaupun diri kita sendiri berbeda. Bhineka Tunggal Ika menjadi pegangan konkrit bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai agama, suku, dan budaya. Juga yang perlu digaris bawahi, bahwa pemikiran yang cemerlang seperti Nabi Muhammad perlu banyak dicontoh oleh masyarakat Indonesia.  

Posting Komentar

0 Komentar