Ditanggung Pandai



Tulisan ini adalah karya milik kakak saya Unun Setiyawati (2010). Saya pungut dari buku bindernya yang tidak sengaja saya temukan di rumah. Tulisan yang menceritakan dengan singkat kelucuan sosok seorang "Bahlul". 

Untung Tidak Dipakai

Siang itu karena tidak ada orang penting di Istana, Khalifah mengajak Bahlul bersantai dibelakang istananya. Kebetulan saat itu para pembantu Khalifah sedang mengeringkan baju-baju Khalifah dengan menggantungkannya di lantai atas. Tiba-tiba ada angin puyuh yang menghantam baju-baju dan menjatuhkannya ke tanah. Melihat baju-bajunya jatuh, tentu saja Khalifah menghardik pembantunya.

"Tolol kalian semua, menjemur baju saja tidak becus". Kata Khalifah.

"Seharusnya Khalifah mengucapkan Alhamdulillah,". Bahlul nyeletuk.

"Alhamdulillah? Bagaimana mungkin?". Tanya Khalifah ketus.

 "Coba pikir, bagaimana seandainya tuan memakai baju itu, tuan pasti sudah dibikin mampus oleh angin itu!". Kata Bahlul pendek.

***

Untung Hanya Satu

Suatu hari seorang muslim keturunan Afrika mendekati Bahlul dan berkata, "Katakan kepadaku, hai orang bijak, mengapa Yang Maha Segalanya hanya menciptakan satu matahari untuk kita?" 

Dengan enteng Bahlul menjawab, "Satu saja kamu sudah begitu hitam, apalagi dua?"

***

Tidak Kebagian Air Wudhu

Pada hari Jum'at, Masjid Baghdad selalu penuh sesak jamaahnya. Karena datang terlambat. Bahlul pun tidak kebagian air wudhu. Air yang tersisa hanya cukup untuk berwudhu sebagian karena ketika tepat mau membasuh kaki kirinya, airnya sudah habis. Begitulah Bahlul sholat dengan kaki kiri terangkat. Tentu saja orang-orang dibelakangnya keheranan. Setelah sholat jum'at selesai, mereka bertanya.

"Mengapa kamu tadi sholat dengan kaki kiri diangkat?" Tanya salah satu jamaah.

"Karena kaki kiriku tadi tidak kebagian air wudhu". Jawab Bahlul sekenanya.

***

Ditanggung Pandai

Keponakan Bahlul memang dikenal amat pandai. Di Madrasahnya hampir semua pelajaran dia kuasai dengan baik mulai dari Fikih, Sirah Nabawiyah, Syariat sampai masalah-masalah Muamalah. Suatu hari Ustadznya memuji kepandaian keponakan Bahlul itu saat bertemu.

"Alangkah senangnya kalau aku punya anak sepintar dirimu." Puji Ustadznya.

"Ohh itu bisa diatur Ustadz, kirim saja istri Ustadz ke ayahku, ditanggung anak Ustadz pandai seperti aku ini." Jawab keponakan Bahlul lugu.



Posting Komentar

0 Komentar