Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi mata pelajaran di sekolah yang
memiliki tanggungjawab terhadap pendidikan dan pembinaan akhlaq peserta didik. Dalam
proses pembelajarannya di sekolah, peserta didik diharapkan dapat belajar
dengan sungguh-sungguh dan bisa merefleksikan serta menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Hal ini penting untuk peserta didik mengingat agama
Islam adalah pandangan hidup bagi setiap umat muslim.
Zakiyah Darajat (2008) berpendapat bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.
Dalam realitasnya di sekolah, pelajaran PAI masih kurang diminati oleh
peserta didik khususnya di sekolah yang tidak berbasis agama. Kebanyakan dari mereka
lebih suka pelajaran umum seperti matematika, IPA, dan IPS. Selain itu jam
pelajaran PAI sendiri masih tergolong sedikit dibanding dengan mata pelajaran
lainnya. Sedangkan pelajaran yang mengandung pembinaan dan pendidikan akhlaq
peserta didik ada pada pelajaran PAI.
Akhlaq sangat menentukan kehidupan pesera didik. Demi untuk membenai pergaulan-pergaulan pada saat ini, dimana zaman sudah sangat berkembang pesat sudah banyak kerusakan akhlaq dimana-mana. Pada saat ini banyak ditemukan terkait akhlaq baik dari anak yang berpendidikan maupun yang tidak, masih banyak yang salah dalam menerapkan sikap tersebut karena masih sangat jauh untuk mendalami atau menghayati arti akhlaq itu sendiri (Husnur Rofiq, 2019). Hal tersebut melatarbelakangi pentingnya pembelajaran PAI di sekolah dalam membantu pendidikan dan pembinaan akhlaq peserta didik.
Pembelajaran PAI adalah upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh
belajar, terdorong belajar, mau belajar, dan tertarik untuk terus menerus
mempelajari agama Islam, baik untuk kepentingan mengetahui bagaimana cara
beragama yang benar maupun mempelajari Islam sebagai pengetahuan yang
mengakibatkan beberapa perubahan yang relatif tetap dalam tingkah laku
seseorang yang baik dalam kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dalam pembelajaran agama Islam, ilmu tasawuf sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan umat muslim. tasawuf merupakan ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Tasawuf sendiri berorientasi pada spiritual dan juga berorientasi pada moral. Ada beberapa konsep tasawuf yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran PAI. Salah satunya yaitu konsep tasawuf akhlaqi.
Tasawuf akhlaqi adalah tasawuf yang beorientasi pada perbaikan akhlaq, mencari hakikat kebenaran dan mewujudkan manusia yang dapat makrifat Allah Swt., dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf akhlaqi biasa juga disebut dengan istilah sunni. Tasawuf model ini berusaha untuk mewujudkan akhlak yang mulia dalam diri si sufi, sekaligus menghindari diri dari akhlaq mazmumah (tercela).
Dalam diri manusia ada potensi untuk menjadi baik dan ada potensi untuk buruk. tasawuf akhlaqi tentu saja berusaha mengembangkan potensi baik supaya manusia menjadi baik, sekaligus mengendalikan potensi yang buruk supaya tidak berkembang menjadi perilaku (akhlak) yang buruk. potensi buruk menjadi baik adalah al-Aql dan al- Qabl. Sementara potensi untuk menjadi buruk adalah an- nafs, nafsu yang dibantu oleh syaitan. Oleh karena itu, tasawuf akhlaqi merupakan kajian ilmu yang sangat memerlukan praktik untuk menguasainya. Tidak hanya berupa teori sebagai sebuah pengetahuan, tetapi harus dilakukan dengan aktifitas kehidupan manusia (Cecep Alba, 2012).
Selengkapnya baca di buku
0 Komentar