Suara-Suara Dari Desa


Pagi itu telah ramai di ruang rapat Balai Desa Kapanmulyo. Keramaian itu terjadi akibat ulah Pak Caknyo yang masih ingin mengambil bagian proyek kegiatan Desa Kapanmulyo. Pak Caknyo merupakan Kepala Desa yang masa jabatannya tinggal dua tahun lagi. Ini merupakan Periode terakhir Pak Caknyo setelah sebelumya memenangkan kontestasi Pilkades tiga kali berturut-turut. 

"Pokoknya proyek perbaikan jalan di Desa Kapanmulyo jadinya saya yang ambil langsung!" Seru Pak Caknyo.

"Loh kan itu proyek bagian saya Pak Kades?" Tanya Sekretaris Desa yang kerap dipanggil Mas Sabodo.

"Tidak jadi, kita atur ulang lagi pembagian proyeknya.." Jawab Pak Caknyo.

"Ya, jangan begitu dong Pak, saya belum dapat jatah ini"  Ucap salah satu Perangkat Desa.

"Kamu mau ikuti saya atau mau saya gantikan jabatanmu!?" Kata Pak Caknyo dengan nada penuh emosi.

Semua orang yang di ruang rapat sontak terdiam. Setelah Pak Caknyo memberikan pertanyaan menohok kepada salah satu Perangkat Desa Kapanmulyo. 

Setelah rapat selesai dan Pak Caknyo meninggalkan ruang rapat, Bang Koes yang merupakan tangan kanan Pak Caknyo menanggapi terkait masalah yang terjadi saat rapat. Bang Koes memberikan tanggapan bak ceramah. Bang Koes jelas mendukung Pak Caknyo namun dibalut dengan kata-kata manis, seakan-akan dia tidak sepakat dengan keputusan Pak Caknyo. 

Para Perangkat Desa termasuk Mas Sabodo selaku Sekretaris Desa sudah tahu persis siapa Bang Koes. Ia bukan termasuk di dalam struktur organisasi Desa Kapanmulyo. Namun keberadaannya selalu ada di Balai Desa Kapanmulyo. Masyakarat yang hendak bertemu dengan Pak Caknyo harus bertemu terlebih dulu dengan Bang Koes. Selain itu, Bang Koes inilah orang yang menjadi andalan Pak Caknyo dalam menggarap proyek yang ada di Desa.

Keesokan harinya, salah satu warga Desa Kapanmulyo datang ke Balai Desa hendak meminta surat pengantar untuk membuat SKCK dari Pemerintah Desa. Di sana bertemu dengan Mas Sabodo yang baru saja sampai di kantor pukul 09.00 WIB. Jam kerja kantor disana memang tidak menentu walaupun sudah ditentukan. Seringnya dari pukul 09.00 WIB sampai sebelum dhuhur saja.

"Mas, saya mau minta surat pengantar buat SKCK" Kata seorang pemuda yang hendak buat SKCK.

 "Sebentar Mas saya baru sampai.." Kata Mas Sabodo agak judes.

"Ohh iya Mas.." Balas pemuda itu.

"Mas, ini sudah saya tanda tangani, tapi belum saya stempel, karena stempelnya dibawa lari Pak Kades.." Kata Mas Sabodo sambil menyerahkan surat pengantar.

"Kok bisa Mas?" Tanya pemuda itu.

"Tanya Pak Kades saja Mas.." Jawab Mas Sabodo.

Pemuda itu kemudian mencari ruangan Pak Caknyo. Namun Pak Caknyo yang seorang Kades itu ternyata tidak ada diruangannya. Pak Caknyo sedang keluar bersama rombongan Kades se Kabupaten Majumundur. Hendak membahas masalah Silaturahmi Nasional Kepala Desa di Jakarta.

Silaturahmi Nasional di Jakarta ini akan membahas tuntutan masa jabatan Kades yang semula 6 tahun dalam 3 periode agar menjadi 9 tahun dalam 2 periode. Alasan yang melatarbelakangi adalah karena dampak Pilkades menjalar dalam kehidupan sosial masyarakat di Desa. Selesainya Pilkades tidak menjadikan selesainya pertikaian antar pendukung masing-masing Calon. 

Pak Caknyo yang sedang berkumpul dengan para Kades seluruh Kabupaten Majumundur ditemui oleh pemuda yang hendak membuat SKCK. Pemuda itu terpaksa mencari keberadaan Pak Caknyo karena kebutuhan yang mendesak. Sebelum surat pengantar yang tinggal distempel itu sampai di tangan Pak Caknyo. Bang Koes memeriksa surat pengantar tersebut terlebih dahulu.

"Surat Pengantar SKCK Pak.." Kata Bang Koes.

"Bukan Proposal Proyek dari para Perangkat itu kan?" Tanya Pak Caknyo kepada Bang Koes.

"Aman Pak.." Jawab Bang Koes"

"Yasudah bawa sini.." Kata Pak Caknyo sambil mengambil stempel di dalam tasnya.


Selengkapnya baca di buku

Posting Komentar

0 Komentar