Alat Perjuangan Itu Bukanlah Podium

Banyak stasiun TV dan media berita yang menayangkan hebohnya polemik suatu partai. Dari partai satu ke partai lainnya. Kemudian menyorot para petinggi partai. Padahal sebenernya rakyat tidak butuh tontonan seperti itu. Padahal 2024 masih lama, namun papan baliho juga sudah bertebaran dimana-mana. Sekarang ini pengakuan dari banyak orang seperti menjadi sebuah tujuan yang harus dicapai. Eksistensi menjadi sebuah kebutuhan sehari-hari sama seperti kebutuhan primer demi menjadi seseorang yang diakui itu. Padahal alat perjuangan bukanlah podium.

Perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat bukanlah tentang bagaimana kita hari ini dikenal dan kelak kita akan dikenang. Alat perjuangan itu bukanlah podium. Karena ukuran keberhasilannya bukan ketika kita terkenal diberbagai media baik viral maupun oral. Namun tentang niat yang luhur sebagai praktik amal ma'ruf nahi  munkar dan dirawat dengan jalan yang baik dan benar. 

Anehnya, eksistensi dijadikan sebagai alat marketing. Memasarkan diri sendiri dengan nilai marketingnya "ini loh saya" dan "ini loh saya sedang begini" atau "ini loh saya bisa begini" dengan harapan dapat kuasa politik atau paling tidak dapat banyak followers. Kalau sudah begini sulit membedakan mana barang dagangan, mana artis dan politisi.

Hal-hal demikian itu sebenarnya boleh-boleh saja jika dibarengi dengan apa yang seharusnya dilakukan dan dipertontonkan. Agar nilai marketing diri sendiri itu tidak sia-sia. Eksis untuk bermanfaat bagi banyak orang. Eksis bermanfaat untuk negara. Berani menumbalkan diri sendiri pada realitas sosial serta membunuh egoisme. Semua yang dilakukan itu "tanpa dibuat-buat."


Foto: contoh ngeksis

Selengkapnya baca di buku

Posting Komentar

0 Komentar