Sekolah Yang Dirindukan



Sudah setahun lebih virus corona membuat resah masyarakat Indonesia. Termasuk Pak Casmo dan Bu Lastri yang resah terhadap kedua anaknya yang tidak berangkat sekolah. Luki dan Susan namanya, seorang siswa kelas 2 SMA dan 3 SD. Karena sekolahannya sementara ditutup untuk mengurangi penyebaran virus corona. Pembelajaran pun dialihkan via online dan hanya sesekali tatap muka.

Keresahan itu dimulai ketika Bu Lastri masuk ke dalam grup WA perkumpulan wali murid kelas 3 SD. Waktu itu merupakan tahun ajaran baru. Proses belajar mengajar dilakukan melalui grup WA. Metodenya yaitu guru mengirim pesan berupa halaman buku yang perlu dipelajari dan tugas yang perlu dikerjakan serta tidak lupa tanggal pengumpulan tugasnya. 

Bu Lastri yang merupakan wanita karir memiliki kerjaan tambahan untuk membantu anaknya yang bernama Susan untuk mengerjakan tugasnya. Beruntung tugas belajar yang diberikan tidak setiap hari dan hanya satu minggu sekali. Tapi tetap saja waktu untuk beristirahatnya menjadi terganggu.

Waktu sehabis Isya' sekitar jam 8 lebih tugas Susan sudah selesai. Ketika dilihat oleh Bu Lastri, ternyata Susan menggunakan HP milik Bu Lastri untuk mengerjakan tugasnya. Bu Lastri pun kaget dan berpikir bahwa anaknya telah belajar secara instan melalui internet. Tidak ada proses belajar mengajar yang membuatnya paham terkait materi. Setelah dilihat riwayat google HP terlihat beberapa hasil pencarian, "Berapa hasil dari 50 x 32 + 500". Bu Lastri kemudian harus mengajarkan ulang materi terkait tugas milik Susan dan sesekali mengoreksi jawaban yang masih salah serta membantu menjawab soal yang masih kosong. 

Selengkapnya baca di buku

Posting Komentar

0 Komentar