Selingkuh Itu Indah, Tapi Lebih Indah Jika Tidak Selingkuh






Adi adalah mahasiswa Bimbingan Konseling asal Pekalongan yang mengambil studi di salah satu kampus besar di Yogyakarta. Ia bernama lengkap M Adi Kurniawan. Hobi berolahraga dan bermain cinta. Entah apa yang dimaksud dengan “bermain cinta”, yang jelas tidak seperti yang dipikirkan. Selain sebagai seorang mahasiswa, Adi juga merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia bakal memiliki tanggungjawab besar nantinya di dalam keluarga. Maka dari itu hidupnya sangat penuh kehati-hatian dan pundaknya haruslah kuat.

Di Yogyakarta, Adi tinggal bersama teman-temanya dari berbagai daerah di Jawa. Yaitu Firman, Asep dan Sobirin. Mereka mengontrak di salah satu rumah yang lumayan dekat dengan kampus. 5 Menit jika dilalui dengan berjalan kaki. Adi tidak membawa kendaraan ke Yogyakarta. Ia pulang-pergi ke Pekalongan menggunakan kereta. Ia tidak diperbolehkan oleh orang tuanya membawa motor karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di jalan. Maklum anak pertama hendak dijadikan aset berharga keluarga. Setiap ke kampus baik itu untuk perkuliahan maupun kegiatan lain Ia ikut menumpang motor temannya. Seringnya ia berjalan kaki karena jarak kampus yang dekat.

Sebagai seorang kakak, Adi sewaktu di rumah bagaikan tokoh super hero bagi adik-adiknya. Ia selalu memberikan contoh-contoh yang baik. Hal itu pun Ia lakukan ketika di perantauan. Teman-temannya ia jadikan seperti saudara sendiri. Hal paling sederhana adalah Adi selalu dijadikan tempat untuk curhat oleh teman-temannya. Problem solving untuk masalah kehidupan yang begitu pelik khususnya masalah percintaan. Sesuai dengan studi yang diambil oleh Adi. Ia bagaikan Konselor bagi teman-temannya.

Tidak aneh jika mereka sering berkumpul karena tinggal bersama di satu rumah. Bahkan mereka sampai membuat kegiatan rutin satu minggu sekali dan tidak ada yang boleh absen sama sekali. Tepatnya di malam jum’at, mereka beri nama “majelis ghibah”. Dimana mereka berkumpul dan berdiskusi masalah percintaan dari masing-masing penghuni rumah mulai dari Firman, Asep, dan Sobirin. Adi sebagai konselornya karena ia tidak memiliki pasangan sendiri. Tidak memiliki pasangan bukan karena tidak ingin, tapi karena lagi-lagi tidak diperbolehkan oleh orang tuanya. Adi harus serius menatap masa depan untuk keluarganya terlebih dahulu.

Di sinilah bermain cinta yang menjadi hobi Adi. Ia hanya mendengar dan memberikan solusi saja. Agar teman-temannya melakukan perintah apa yang disampaikan biarpun itu benar atau salah. Mengingat Adi belum pernah merasakan patah hati sama sekali, namun ia juga bisa ikut merasakan apa yang dirasakan oleh teman-temannya. Lewat teman-temannyalah ia bermain cinta.

Pada suatu waktu majelis ghibah dimulai.

“Keluarkan!”. kata Adi.

“Di luar atau di dalam sayang?” Tanya Asep dengan nada mendesah mengingat malam jum’at.

“Yang dikeluarkan masalah hidupmu Sep, bukan hasil dari bercintamu, dasar otak ngeress.” Jawab Firman

“Sebentar, lagi seru nih Mas Al sama Mba Andin.” Kata Sobirin yang sedang asik nonton sinetron Ikatan Cinta.

“Hoalah Cuk! Keluarkan kopi sama rokok lah. Biar majelisnya berjalan lancar haha.” Kata Adi yang tanggal tua belum dapat kiriman.

Selengkapnya baca di buku

Posting Komentar

0 Komentar