Gantung Sepatu



Dalam dunia olahraga, gantung sepatu adalah momen sakral. Biasanya diiringi konferensi pers, video kompilasi, dan air mata yang jatuh dengan dramatis. Tapi dalam dunia aktivisme, gantung sepatu sering terjadi diam-diam. Tidak ada kamera, tidak ada pidato perpisahan. Tahu-tahu orangnya sudah jarang ikut rapat, jarang turun aksi, dan kalau ditanya jawabnya pendek: “Lagi fokus kerja.”

Aktivisme adalah fase hidup yang sering dimulai dengan idealisme tanpa rem. Kita percaya dunia bisa berubah lewat diskusi panjang, selebaran fotokopian, dan teriakan lantang di jalan. Kita yakin keadilan tinggal selangkah lagi, asal semua orang mau rapat sampai jam dua pagi dan patungan buat spanduk. Pada fase ini, tidur adalah pilihan, makan adalah opsional, dan logika finansial dianggap pengkhianatan terhadap perjuangan.

Masalahnya, hidup pelan-pelan datang membawa tagihan. Bukan cuma tagihan listrik, tapi juga tagihan realitas. Ada perut yang perlu diisi, ada keluarga yang mulai bertanya, “Kapan kerja beneran?”, dan ada tubuh yang tak lagi kuat berdiri berjam-jam sambil orasi. Di titik ini, idealisme mulai beradu kepala dengan kenyataan, dan sering kali yang pusing bukan cuma kepala, tapi juga dompet.

Di sinilah pentingnya idealisme yang lebih terukur. Idealisme yang tidak merasa bersalah ketika pulang lebih awal dari rapat. Idealisme yang tidak menganggap gaji sebagai dosa ideologis. Idealisme yang sadar bahwa menyelamatkan dunia tanpa menyelamatkan diri sendiri biasanya berakhir dengan burnout, bukan revolusi. Idealisme yang tahu kapan harus turun ke jalan, dan kapan harus turun ke kasur untuk tidur cukup.

Menggantung sepatu aktivisme tidak selalu berarti berhenti peduli. Banyak yang hanya mengganti sepatu: dari sepatu lapangan ke sepatu kantor, dari megafon ke spreadsheet, dari poster tuntutan ke proposal program. Bentuknya berubah, tapi kegelisahannya masih sama hanya kini lebih sunyi dan kadang lebih realistis.

Pada akhirnya, aktivisme bukan kompetisi siapa paling lama kuat hidup susah sambil marah. Ia soal konsistensi menjaga nurani, meski bentuknya berubah-ubah. Kalau suatu hari kita gantung sepatu, santai saja. Tidak semua orang harus terus berlari. Ada yang memang perlu duduk sebentar, minum kopi, lalu berpikir ulang: perjuangan macam apa yang masih masuk akal untuk dijalani tanpa kehilangan diri sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar