Di sebuah kampung kecil bernama Kampung Harapan, tinggallah dua sahabat sejati: Tono dan Ucup. Mereka bukan siapa-siapa, hanya dua pemuda pengangguran terhormat yang tiap sore nongkrong di pos ronda sambil makan gorengan dan memandangi sungai yang dulunya bening, sekarang mirip es kopi susu—tapi baunya bukan kopi, lebih kayak kaos kaki basah bekas main bola.
"Cup," kata Tono sambil mengunyah bakwan, "lu pernah mikir gak sih, kenapa kampung kita ini makin jorok aja? Dulu ikan mujair masih bisa salto di kali, sekarang yang salto cuma plastik Indomie."
Ucup mengangguk, "Bener. Dulu gue bisa nyuci motor di sungai, sekarang nyuci motor malah jadi kotor. Airnya kayak kuah rendang gagal."
Lalu, terjadilah momen paling sakral dalam sejarah hidup mereka, merenung.
"Ton," kata Ucup, matanya menerawang ke langit, "kenapa ya... kita berdua yang bukan siapa-siapa ini malah mikirin soal sampah. Kita repot-repot bikin ide bank sampah, ngajak ibu-ibu arisan buat pilah organik sama anorganik, sedangkan orang lain malah buang popok di got depan masjid. Kenapa kita yang dikasih pikiran beginian?"
Tono pun mengangguk sambil garuk-garuk kepala, "Iya ya. Kayak... Tuhan itu duduk di langit, muter undian siapa ya yang aku kasih kepedulian soal lingkungan? Oh, Tono dan Ucup aja." Lah, yang lain? Kayak dikasih pikiran: "Buang aja sampah, nanti juga hilang sendiri."
Ucup mendesah, "Padahal sampah tuh gak hilang, cuma pindah tempat. Dari tangan ke got, dari got ke sungai, dari sungai ke laut, dari laut ke perut ikan, dari perut ikan ke perut kita. Astaga... kita tuh manusia atau tong sampah berjalan?"
Sejak itu, mereka berdua mantap jadi aktivis lingkungan dadakan. Mereka bikin spanduk: "Jangan Buang Sampah Sembarangan, Nanti Balik Lagi ke Mulutmu." Spanduk dipasang di depan warung, walau tiga hari kemudian dijadikan alas jemuran oleh Bu RT.
Tono juga sempat jadi terkenal waktu bikin video edukasi daur ulang botol plastik jadi pot bunga. Tapi videonya kalah viral sama berita hot selebriti, korupsi pejabat dan kasus ijazah palsu Pak Jokowi yang gak selesai-selesai.
Suatu hari, saat mereka sedang mengangkut sampah plastik ke bank sampah pakai becak sewaan, Ucup mendadak berhenti dan menatap langit.
"Ton… kenapa ya, kita yang dikasih pikiran beginian, justru sering diketawain?"
Tono menjawab sambil nyengir, "Mungkin karena orang belum sadar, Cup. Pikiran itu kayak Wi-Fi, gak semua orang dapet sinyal."
Mereka tertawa. Tawa yang bukan karena lucu, tapi karena kalau gak ketawa, mereka bisa stres. Tapi di balik tawa itu, mereka tahu satu hal: dikasih pikiran untuk peduli itu bukan beban, tapi anugerah. Meski kadang capek, dicuekin, atau dianggap sok idealis, mereka percaya... dunia ini butuh lebih banyak orang yang diberi pikiran.
Dan di akhir cerita, seperti biasa, mereka duduk di pos ronda, makan gorengan, memandangi sungai, dan tersenyum kecil. Kali ini, bukan karena pasrah... tapi karena harapan kecil itu, masih ada.

0 Komentar