Di Warung Kopi Pak Lik



Di sebuah desa kecil bernama Wanokaryo, berdirilah warung kopi sederhana milik Pak Lik Sarno. Bangunannya tak lebih dari gubuk bambu beratap seng, tapi selalu ramai. Di sana, segala masalah negeri dibicarakan: dari harga cabai, hujan yang tak kunjung turun, hingga menteri yang katanya korupsi lagi.

Suatu hari, seorang pemuda bernama Jatmiko pulang dari kota. Ia baru lulus S2 dari universitas ternama. Mengenakan kemeja rapi, sepatu kulit mengkilap, dan membawa setumpuk buku tebal, Jatmiko duduk di warung Pak Lik dan memesan kopi hitam tanpa gula—katanya itu gaya hidup sehat.

Obrolan warga pun berubah. Mereka mendadak kikuk. Pak Lik Sarno yang biasanya cerewet, kali ini hanya menyodorkan kopi tanpa komentar. Jatmiko memulai pembicaraan.

"Menurut Gramsci," katanya sambil membuka buku catatan, "intelektual organik adalah mereka yang menyatu dengan rakyat. Tapi problem kita adalah kelas hegemonik yang justru mendikte nilai-nilai..."

Warga saling pandang. Mas Parman, petani yang biasa cerewet soal pupuk, hanya menunduk sambil mengaduk kopinya.

Melihat itu, Pak Lik Sarno tersenyum. "Miko, kamu anak pinter. Tapi kami ini bukan halaman jurnal. Ngomonglah pakai bahasa kami."

Jatmiko diam. Ia merasa kecewa—bukan pada warga, tapi pada dirinya sendiri. Ia pulang dengan niat besar: membawa pencerahan. Tapi ia malah menciptakan jarak. Bukannya menjembatani, ia membangun tembok.

Besoknya, Jatmiko datang lagi. Kali ini tanpa kemeja rapi, hanya kaos oblong dan sandal jepit. Ia duduk, membantu Pak Lik menyeduh kopi. Ia mendengar, bukan hanya berbicara.

Obrolan pun kembali mengalir.

"Aku baca berita, ada petani bawang yang gagal panen karena bibit dari pabrik rusak. Ini kayak kasus di desa sebelah, ya, Lik?" katanya pelan.

Pak Lik mengangguk. "Iya, kami juga ngalami. Tapi ya siapa kami ini, Miko. Komplain pun didengar separuh telinga."

Dari situlah diskusi tumbuh. Jatmiko tak lagi mengutip teori duluan. Ia mulai dari mendengar kisah, lalu menyelipkan pemikiran pelan-pelan. Tentang keadilan, tentang distribusi, tentang hak petani. Bahasa yang dipakai? Bahasa pasar, bukan ruang sidang akademik.

Beberapa bulan kemudian, warung Pak Lik tak hanya jadi tempat ngopi. Ia jadi pusat belajar. Jatmiko mengajarkan cara mencatat pengeluaran tani, membantu menulis surat keluhan resmi ke dinas pertanian, bahkan bikin forum kecil warga.

Semua terjadi tanpa seminar, tanpa infografis. Hanya obrolan, kopi, dan kedekatan.

Suatu hari, Jatmiko ditanya oleh wartawan kota yang datang meliput.

"Apa Anda tidak sayang, ilmunya dipakai hanya untuk warga desa?"

Jatmiko tertawa. "Ilmu itu bukan soal siapa yang paling tinggi, tapi siapa yang paling bisa dimengerti. Dan tempat terbaik untuk ilmu, ya di mana ia paling dibutuhkan."

Pak Lik yang duduk di sampingnya menepuk pundaknya.

"Kamu sekarang bukan cuma sarjana, Miko. Kamu sudah jadi orang ngerti."

Seorang intelektual sejati bukan yang bicara di atas podium tinggi, tapi yang bersedia duduk lesehan bersama rakyat, memahami bahasa dan cara hidup mereka, lalu menyisipkan ilmu sebagai lentera, bukan sebagai senjata. Intelektual harus merakyat—karena perubahan besar dimulai dari pemahaman yang sederhana dan tulus.

Posting Komentar

0 Komentar