Kalo ngomongin soal santri, Kabupaten Pekalongan tuh nggak kalah keren! Makanya Kabupaten Pekalongan dijuluki "Kota Santri". Tapi bagaimana ceritanya kok bisa dijuluki Kota Santri ya?
Berdasarkan data BPS Provinsi Jateng tahun 2024, jumlah santri di sana tembus 17.580 orang, lho! Itu belum termasuk yang nyantri di luar kota, ya. Terus, mereka dibimbing sama 2.024 kyai dan ustadz yang tersebar di 107 pondok pesantren di seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan. Kebayang kan gimana ramainya suasana di sana?
Julukan Kota Santri di Kabupaten Pekalongan itu mempunyai sejarah panjang yang perlu kita semua pelajari ya, apalagi bagi seorang santri nih. Tidak sembarangan kenapa Kabupaten Pekalongan dijuluki Kota Santri, mengingat di banyak daerah juga punya potensi yang sama bahkan bisa jadi lebih kan? Atau mungkin juga sama dijuluki "Kota Santri" ?
Jadi begini, di masa sebelum Indonesia merdeka, tepatnya antara abad ke-18 sampai abad ke-20, beberapa ulama ikut berjuang bareng Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa tahun 1830. Ada juga yang pindah dari Pekalongan ke daerah lain, kayak Wonosobo, Bawang, dan Banjarnegara. Termasuk para Sayyid yang menetap di sana. Sementara itu, sebagian ulama lainnya tetap tinggal dan fokus lagi membangun pendidikan Islam di desa-desa sekitar Pekalongan.
Sumber dari kalangan ulama Pekalongan yang diambil dari buku Sejarah Pekalongan yang diterbitin oleh Yayasan Peduli Sejarah Indonesia bilang kalau banyak kegiatan keagamaan waktu itu berkaitan dengan keberadaan makam-makam ulama yang hidup setelah Perang Diponegoro. Salah satunya adalah makam Ki Buyut Marina di Desa Godean, Wonopringgo, yang dipercaya sebagai makam tertua dari masa pra-kolonial. Seiring waktu, lahirlah organisasi-organisasi Islam besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Para Sayyid juga ikut aktif ngembangin pengajian, pondok pesantren, dan madrasah diniyah. Dari situ, muncul banyak tokoh perjuangan yang berperan dalam jalan menuju kemerdekaan.
Waktu masa kolonial, ulama di Pekalongan lebih fokus pada hal-hal yang bermanfaat buat masyarakat. Mereka bangun pendidikan Islam secara mandiri, sekaligus bergerak di bidang ekonomi lewat perdagangan. Karena itu, ulama di Pekalongan juga dikenal sebagai ulama pedagang. Sekitar tahun 1940-an, mulai banyak pondok pesantren tumbuh di desa-desa. Para pendirinya datang dari berbagai daerah, kayak Jawa Timur, Jawa Barat (Cirebon), sampai Sumatera. Bahkan, sejak tahun 1800-an, sudah ada pondok pesantren di Desa Simbang Kulon yang dipimpin oleh Kyai Amir, mulai aktif sekitar 1840.
Di Desa Kanayagan, Kota Pekalongan, ada pondok pesantren yang dibangun oleh Kyai Agus Kendal. Di Buaran, Kyai Syafi’i mendirikan pesantren dan dikenal nggak cuma sebagai ulama yang disegani, tapi juga pejuang kemerdekaan. Beliau sempat membakar semangat para santri dan warga Pekalongan buat melawan Jepang dalam peristiwa 3 Oktober 1945.
Tahun 1848, di Desa Kwagean Wonopringgo, Kyai Anwar mendirikan pesantren. Lalu tahun 1948, K.H Mudzakir juga mendirikan pesantren di Banyu Urip. Ada juga K.H Syarif dari Cirebon yang bangun pesantren di Wonopringgo pada 1939. Di Desa Pait (Sepait), K.H Adam memimpin pesantren lainnya. Penyebaran pesantren dan makam ulama seperti Syekh Nurul Anom menunjukkan kalau dakwah Islam di Kabupaten Pekalongan berkembang hampir ke seluruh wilayah, meskipun pertumbuhannya nggak terlalu mencolok dari luar.
Jadi, enggak heran kalau Kabupaten Pekalongan dijuluki sebagai Kota Santri. Bukan cuma karena banyaknya pondok pesantren yang tersebar di wilayah Kabupaten Pekalongan, tapi juga karena peran besar para ulama dan santri dalam membangun pendidikan Islam dan ikut memperjuangkan kemerdekaan. Dari zaman penjajahan sampai sekarang, semangat ngaji, berdakwah, dan berjuang dari para santri di Kabupaten Pekalongan nggak pernah padam. Julukan “Kota Santri” bukan cuma label, tapi cerminan sejarah dan semangat keislaman yang terus hidup di tengah masyarakatnya.
Selain itu, kalau kita cari tahu di buku Babad Kabupaten Pekalongan yang terbit tahun 2017 oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan dijelaskan juga tuh, kalau ternyata Kota Santri sebagai julukan itu merupakan slogan. Jadi, dulu itu Kabupaten Pekalongan yang penduduknya sekitar 925.649 orang, resmi pindah ibu kota ke Kajen sejak tanggal 25 Agustus 2001. Awalnya, pusat pemerintahan ada di wilayah Kota Pekalongan, tapi kemudian dipindah ke Kajen berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1986. Nah, tanggal 25 Agustus dipilih karena pas banget sama hari jadi Kabupaten Pekalongan. Momen ini jadi semacam titik awal buat ngebangun Kabupaten Pekalongan di era reformasi, dengan semangat baru yang dibungkus waktu itu dalam slogan KOTA SANTRI (Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapih, dan Indah).
Begitulah kira-kira mengapa Kabupaten Pekalongan kemudian disebut sebagai Kota Santri. Tapi, menurut bayangan kalian nih, Kota Santri yang sudah dikenal banyak orang untuk Kabupaten Pekalongan itu yang mana? versi sejarah perkembangan pendidikan Islamnya atau atau yang menjadi slogannya?
Wallahu'alam bishowab..

0 Komentar