Malam itu, bulan sabit menggantung di langit, cahayanya lembut menyentuh bumi yang tenang. Ramadhan hampir usai, dan di sebuah desa kecil, seorang pemuda bernama Ilham duduk termenung di beranda rumahnya. Hatinya penuh dengan perasaan yang sulit dijelaskan—antara syukur, sedih, dan sebuah keraguan yang menggelayuti.
Sejak kecil, Ramadhan selalu menjadi bulan yang dinantikan Ilham. Bukan hanya karena suasana kebersamaannya, tetapi juga karena ia percaya bulan ini membawa kesempatan untuk memperbaiki diri. Namun, tahun ini berbeda. Ia masih terjebak dalam luka yang belum sembuh—kehilangan ayahnya yang berpulang beberapa bulan lalu.
Setiap kali suara takbir menggema, ia merasakan dadanya sesak. Biasanya, ayahnya yang akan membangunkannya untuk sahur, yang akan menemaninya ke masjid untuk tarawih, yang akan duduk di meja makan dengan senyum hangat saat berbuka. Kini semua tinggal kenangan. Ilham merasa belum siap untuk menerima kenyataan, belum siap untuk mengikhlaskan kepergian seseorang yang begitu ia cintai.
Ia menghabiskan hari-harinya di bulan Ramadhan ini dengan rutinitas yang terasa hampa. Salat tetap ia jalankan, puasa tetap ia tunaikan, tetapi ada sesuatu yang hilang—ketenangan dalam dirinya. Setiap kali ia melihat teman-temannya berbincang riang dengan ayah mereka seusai tarawih, ia merasa hatinya semakin kosong.
“Ilham,” suara lembut ibunya membuyarkan lamunannya. “Kamu tidak ikut ke masjid malam ini?”
Ilham menghela napas. “Bu, kenapa rasanya sulit sekali merelakan? Aku ingin berdoa, ingin meminta agar ayah kembali, tapi aku tahu itu tidak mungkin.”
Ibunya tersenyum, matanya menyiratkan kebijaksanaan yang dalam. “Nak, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tapi juga tentang menata hati. Mengikhlaskan bukan berarti melupakan, tetapi menerima dengan lapang dada bahwa segala sesuatu adalah ketetapan-Nya.”
Ilham terdiam. Kata-kata ibunya begitu menenangkan, seolah menyentuh sisi hatinya yang selama ini ia tutup rapat. Ia sadar, selama ini ia sibuk bertanya mengapa, tanpa benar-benar menerima kenyataan bahwa hidup adalah tentang perpisahan yang tak bisa dihindari.
Keesokan harinya, Ilham mencoba mengubah caranya memandang kehilangan. Ia mulai mengenang ayahnya dengan cara yang lebih baik—bukan dengan kesedihan, tetapi dengan doa dan kebaikan. Ia pergi ke masjid lebih awal, membantu membersihkan sajadah, dan mulai aktif dalam kegiatan sosial di kampungnya.
Suatu sore, setelah asar, ia mendapati seorang anak kecil menangis di sudut masjid. Ilham mendekatinya. “Kenapa menangis?” tanyanya lembut.
Anak itu, yang ternyata bernama Fadil, mengusap air matanya. “Aku rindu ayah. Dia pergi kerja di kota dan belum pulang-pulang.”
Ilham tersenyum kecil. Ia duduk di samping Fadil dan berkata, “Aku juga rindu ayahku. Tapi tahukah kamu? Ayah selalu ada di hati kita. Jika kita mendoakan mereka, mereka juga pasti akan bahagia.”
Fadil mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya, Ilham merasa ada kedamaian dalam hatinya. Ia menyadari bahwa mengikhlaskan bukan berarti berhenti mencintai, tetapi merelakan dengan kepercayaan bahwa cinta tetap ada meski tak lagi terlihat.
Malam itu, ia melangkahkan kaki menuju masjid. Dalam sujud panjangnya, ia tidak lagi meminta agar takdir diubah, tetapi ia meminta kekuatan untuk menerima. Dalam Ramadhan yang hampir berakhir ini, Ilham menemukan maknanya—bulan suci ini adalah tentang mengikhlaskan, tentang merelakan dengan keyakinan bahwa setiap kehilangan membawa hikmah, dan setiap doa yang dipanjatkan tidak pernah sia-sia.
Di langit, bulan sabit masih bersinar, seakan tersenyum padanya, memberi tanda bahwa keikhlasan adalah jalan menuju kedamaian.

0 Komentar