Desember selalu punya cara sendiri untuk membawa kenangan kembali. Di bulan itu, udara lebih dingin, langit lebih kelabu, dan waktu seolah bergerak lebih lambat. Bagi Satria, Desember bukan sekadar bulan terakhir dalam kalender, melainkan lembaran yang selalu membuatnya merenung—tentang hidup, kehilangan, dan harapan.
Tahun ini, ia kembali ke desa tempatnya tumbuh. Setelah sekian lama merantau, akhirnya ia merasa harus pulang. Bukan karena rindu, tapi karena janji yang belum sempat ia tepati. Janji kepada Pak Rahman, guru SD-nya yang dulu sering mengatakan, "Jangan lupa pulang, karena tempat ini akan selalu menunggumu."
Saat langkahnya menapaki jalanan berbatu yang mengarah ke rumah kecil di ujung kampung, bayangan masa kecilnya muncul. Ia ingat bagaimana dulu Pak Rahman dengan sabar mengajarinya membaca dan menulis, menanamkan nilai bahwa hidup bukan sekadar mencari uang, tetapi juga memberi arti bagi orang lain.
Namun, tak lama setelah Satria beranjak remaja, ia mulai melihat dunia dengan cara berbeda. Kota besar mengajarkannya ambisi, persaingan, dan keinginan untuk selalu lebih dari orang lain. Ia melupakan banyak hal, termasuk desa kecil dan sosok guru yang dulu begitu berarti baginya. Hari-harinya dihabiskan dengan bekerja, mengejar target, dan berusaha menaiki tangga kesuksesan. Setiap kali teringat kampung halamannya, selalu ada alasan untuk menunda: pekerjaan yang belum selesai, proyek yang harus dijalankan, atau sekadar keyakinan bahwa masih ada waktu di lain kesempatan.
Setibanya di rumah Pak Rahman, Satria mendapati rumah itu sepi. Seorang tetangga berkata bahwa Pak Rahman telah berpulang sebulan yang lalu. Tidak ada pesta perpisahan, tidak ada berita besar—hanya seorang pria tua yang pergi dalam kesunyian. Satria terpaku. Seakan ada sesuatu yang menekan dadanya dengan berat. Ia tidak bisa mengucapkan terima kasih, tidak bisa meminta maaf, tidak bisa lagi berbincang dengan sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Satria duduk di teras rumah yang berdebu, menatap langit Desember yang mendung. Hatinya terasa hampa. Ada penyesalan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Seandainya ia pulang lebih cepat, seandainya ia menepati janjinya lebih awal, mungkin ia masih bisa mendengar suara lembut Pak Rahman yang penuh kebijaksanaan. Kenangan masa kecilnya berputar kembali. Suara Pak Rahman saat mengajarinya mengeja, tepukan lembut di pundaknya saat ia berhasil menyelesaikan tugas sekolah, bahkan nasihat-nasihat sederhana yang dulu ia anggap remeh kini terasa begitu dalam.
Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju sekolah dasar tempat ia dulu belajar. Bangunan itu masih berdiri, meskipun catnya mulai pudar dan halaman sekolah tak seramai dulu. Ia berjalan melewati ruang kelas yang pernah menjadi saksi bisu masa kecilnya. Di papan tulis, masih tertulis pelajaran yang diajarkan guru-guru baru, tetapi bagi Satria, bayangan Pak Rahman tetap hidup di sana.
Saat ia hendak pergi, seorang anak kecil menghampirinya. “Kakak siapa?” tanya anak itu polos. Satria tersenyum, mengingat dirinya sendiri bertahun-tahun lalu.
“Aku dulu juga sekolah di sini,” jawabnya sambil berjongkok agar sejajar dengan si anak.
Anak itu mengangguk, lalu dengan semangat berkata, “Aku mau jadi guru kalau sudah besar, seperti Pak Rahman!”
Satria terdiam sejenak. Ternyata, jejak Pak Rahman tidak benar-benar hilang. Warisannya ada pada anak-anak seperti ini, yang masih mengingatnya dan menjadikannya inspirasi. Ia mengelus kepala anak itu dan berkata, “Belajarlah yang baik, dan jangan pernah lupa berbagi ilmu.”
Saat matahari mulai condong ke barat, Satria menarik napas dalam dan beranjak pergi. Kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri: tidak akan lagi menunggu Desember berikutnya untuk kembali. Karena makna hidup bukan tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tapi tentang seberapa banyak ia memberi arti bagi orang lain sebelum segalanya terlambat. Hidup bukan hanya tentang mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa meninggalkan jejak yang berarti bagi orang lain.
Ia melangkah meninggalkan sekolah itu dengan hati yang lebih ringan. Kali ini, ia tahu ke mana ia harus melangkah selanjutnya: kembali ke akar, kembali berbagi, dan tidak lagi menunda hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup.

0 Komentar