Matahari sedang garang ketika Andi berjalan tergesa di tengah hiruk-pikuk kota. Wajahnya kusut, kemejanya basah oleh keringat, dan pikirannya berantakan. Perusahaan tempatnya bekerja baru saja mengumumkan pemutusan hubungan kerja besar-besaran. Andi, salah satu karyawan terbaik, menjadi korban. Dunia seolah runtuh.
“Bagaimana aku bisa bayar cicilan rumah? Bagaimana masa depan anakku?” gumamnya dengan suara parau. Langkahnya membawa ia ke sebuah taman kecil di sudut kota. Ia duduk di bangku kayu, menundukkan kepala, memandangi ujung sepatunya yang mulai usang.
Andi mencoba mengingat kembali perjalanan hidupnya. Ia terlahir dari keluarga sederhana di desa kecil, namun selalu bercita-cita besar. Ia bekerja keras hingga berhasil masuk universitas ternama, kemudian mendapatkan pekerjaan impian di kota besar. Tetapi, ambisi yang begitu besar membuatnya lupa untuk berhenti sejenak dan bersyukur.
“Kenapa ini harus terjadi padaku?” tanyanya pada angin yang berlalu. Tidak ada jawaban, hanya bisikan daun-daun yang tertiup. Dalam hati kecilnya, ia merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang telah lama ia abaikan.
Di sisi lain kota, Ratna, istrinya, sedang berkutat dengan pekerjaan rumah. Ia tahu suaminya menghadapi tekanan berat, tetapi ia sendiri tidak tahu bagaimana membantu. Ratna hanya bisa berdoa dalam hati, meskipun ia merasa doanya semakin jarang didengar. Kehidupan di kota memang kejam, pikirnya.
Hari-hari berikutnya menjadi lebih sulit. Andi mulai mencari pekerjaan baru, namun tidak ada yang sesuai. Tabungan keluarga semakin menipis, dan suasana rumah menjadi tegang. Mereka sering bertengkar, saling menyalahkan keadaan.
“Doa tidak akan membayar tagihan kita, Ratna!” bentak Andi suatu malam. Ratna hanya terdiam, menahan tangis. Kata-kata itu begitu menyakitkan, seolah Tuhan sudah tidak lagi ada dalam hidup mereka.
Waktu terus berjalan, dan keadaan tidak membaik. Andi mulai kehilangan harapan. Ia menghabiskan malam-malam dengan merenung sendirian di balkon, menatap langit yang tak memberinya jawaban.
Pada suatu malam yang dingin, Andi bertemu seorang pemuda bernama Sandi di taman yang sama. Sandi tampak sederhana, membawa sebuah kitab suci dan duduk dengan tenang. Andi penasaran, menghampirinya, dan memulai percakapan.
“Kenapa kamu terlihat begitu tenang di tengah dunia yang kacau ini?” tanya Andi dengan nada sinis.
Sandi tersenyum. “Karena aku tahu aku tidak sendirian. Tuhan selalu ada, bahkan di saat aku merasa paling terpuruk.”
Kata-kata itu menusuk hati Andi. Ia terdiam, mencoba mencerna makna di balik ucapan Sandi. “Tapi aku sudah berdoa. Tidak ada yang berubah,” balasnya dengan nada putus asa.
“Mungkin kamu lupa, doa bukan hanya untuk meminta. Doa adalah percakapan dengan Tuhan. Terkadang kita harus mendengar, bukan hanya bicara,” jawab Sandi sambil menatap Andi dengan tatapan penuh makna.
Malam itu, Andi pulang dengan hati yang berat. Ia menceritakan pertemuannya kepada Ratna. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka duduk bersama, saling berbagi tanpa menyalahkan.
“Bagaimana kalau kita coba lagi? Tidak ada salahnya,” ucap Ratna sambil menggenggam tangan Andi.
Mereka mulai meluangkan waktu untuk berdoa bersama, bukan untuk meminta, tetapi untuk berbicara dengan Tuhan. Lambat laun, mereka merasa lebih tenang, meskipun keadaan belum membaik.
Beberapa minggu kemudian, Andi mendapat panggilan wawancara dari sebuah perusahaan kecil. Gajinya tidak sebesar pekerjaan lamanya, tetapi suasana kerjanya jauh lebih nyaman. Ia belajar untuk tidak hanya mengejar materi, tetapi juga kebahagiaan.
Ratna pun mulai membuka usaha kecil-kecilan di rumah. Dengan semangat baru, mereka menghadapi hidup bersama, saling mendukung, dan mengingatkan satu sama lain untuk tidak lupa bersyukur.
Hidup mereka tidak sempurna, tetapi ada kebahagiaan yang sebelumnya hilang. Mereka menyadari, selama ini terlalu sibuk mengandalkan diri sendiri hingga lupa bahwa ada Tuhan yang selalu siap membantu.
Taman kecil itu kini menjadi tempat favorit Andi. Ia sering duduk di sana, membaca kitab suci, atau hanya merenung. Ia bersyukur telah bertemu Sandi, sosok yang mengingatkannya bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar bagi Tuhan.
Pada akhirnya, Andi belajar pelajaran berharga. Hidup memang penuh tantangan, tetapi ia tidak lagi takut. Karena sekarang ia tahu, di setiap langkah, ada Tuhan yang berjalan bersamanya.

0 Komentar