Pinter Agama Masa Gitu?


Di desa Suka Damai, ada seorang pemuda bernama Faisal yang terkenal karena pengetahuannya yang luas tentang agama. Ia sering menjadi pemimpin pengajian dan menjadi rujukan banyak orang jika ada pertanyaan seputar ajaran Islam. Faisal pandai menyampaikan ceramah yang menyentuh hati dan selalu mengutip ayat-ayat serta hadis dengan tepat. Namun, ada satu sisi lain dari Faisal yang jarang terlihat di balik pengetahuannya itu: perilakunya yang kasar dan egois di luar masjid.

Suatu siang, ketika Faisal sedang berada di pasar, seorang penjual buah tua tak sengaja menjatuhkan beberapa apel ke jalan, mengenai kaki Faisal. Bukannya membantu, Faisal justru mengomel dengan suara keras, “Kakek ini gimana sih, bikin orang repot aja!” Orang-orang di pasar terdiam sejenak, terkejut melihat kelakuan Faisal. Mereka berpikir, *pinter agama, kok kelakuannya begitu?*.

Kabar tentang kejadian itu cepat menyebar di desa. Beberapa orang mulai bergunjing, “Bagaimana bisa Faisal yang tahu begitu banyak tentang agama malah memperlakukan orang lain seperti itu?” Namun, Faisal tidak menyadari bahwa perbuatannya menjadi buah bibir. Ia tetap ceramah dengan semangat, tanpa menyadari pandangan orang-orang yang mulai berubah.

Suatu hari, setelah pengajian sore, seorang anak muda bernama Amir yang sering hadir mendekati Faisal. Dengan suara ragu, ia berkata, “Kak Faisal, saya punya pertanyaan. Apa gunanya ilmu agama kalau tidak diamalkan dengan baik kepada sesama?”

Faisal tertegun mendengar pertanyaan itu. Hatinya terasa ditampar keras. Sepanjang malam, kata-kata Amir terus terngiang di kepalanya. Ia mulai merenung, memikirkan semua sikap kasarnya, keangkuhannya, dan bagaimana ia sering berbicara manis di masjid tapi berbeda saat di luar.

Esok harinya, Faisal memutuskan untuk meminta maaf kepada kakek penjual buah di pasar. Dengan kepala tertunduk, ia berkata, “Kek, maafkan saya atas kelakuan buruk saya tempo hari. Saya sadar, ilmu saya tak ada artinya jika saya tidak mengamalkannya.”

Kakek itu tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Nak Faisal, ilmu yang baik adalah yang bisa membuat kita jadi pribadi yang baik juga. Saya memaafkanmu.”

Sejak saat itu, Faisal berusaha mengubah perilakunya. Ia belajar bahwa menjadi pinter agama bukan sekadar soal banyaknya ayat yang dihafal atau ceramah yang memukau, tapi soal tindakan nyata yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan agama. Perlahan, masyarakat pun mulai menghormati Faisal bukan hanya karena pengetahuannya, tapi juga karena hatinya yang berubah menjadi lebih lembut dan penuh kasih.

Posting Komentar

0 Komentar