...
Jam di dinding sudah menunjukkan waktunya pulang. Ali bergegas
mengambil motor bututnya untuk segera pulang ke rumah. Diperjalanan menuju ke rumah, ia dikejutkan oleh sebuah kecelakaan “brakk…”. Sebuah motor tergelincir tepat di depan matanya. Ali merasa
kasihan dan memutuskan untuk berhenti. Ia ingin menolong pengendara motor
tersebut yang ternyata seorang perempuan.
Ali sebenarnya takut untuk menolong seseorang yang tidak ia kenal
di jalan. Karena ia pernah dibegal dengan modus minta tolong dipinggir jalan.
Namun karena rasa kemanusiannya yang tinggi, tidak bisa menahannya untuk tidak
menolong sesama. Apalagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Pengendara
motor itu jatuh sungguhan dan tidak pura-pura seperti Neymar disetiap
pertandingan sepak bola. Ali pun segara untuk menolong pengendara itu.
“Mba, enggak apa-apa?”
“Enggak apa-apa, Masnya mau
ngapain ya?
“Mau nolongin Mba, Masak mau
begal?,
“Kirain Mas, ada orang susah masih saja mau diinjak”
“Aku enggak seperti
gerombolan mereka yang suka injak-injak rakyat kecil Mba”
“Maksudnya para pejabat?”
“Heh, Bukan Mba! Hati-hati
kalau ngomong hehe.” Ali bercanda untuk sekedar menenangkan si perempuan yang
habis terjatuh itu.
Perempuan itu kemudian membuka helm dan maskernya. Terlihat wajah
cantiknya membiru menahan rasa sakit. Ali pun tak tega dan mencoba menawarkannya
untuk diantarkan pulang ke rumah. Perempuan itu pun menolak. Namun Ali tetap
memaksa untuk mengantarnya pulang karena melihat kondisi perempuan itu yang
sulit untuk mengendarai motor sendiri.
Perempuan itu kemudian tidak bisa menolak maksud dari Ali. Motor
yang rusak dibawa Ali ke bengkel yang tidak jauh dari lokasi mereka untuk diperbaiki. Ali pun mengantar si perempuan itu dengan
mengendarai motor bututnya. Untuk mengisi kekosongan diperjalan menuju ke rumah
si perempuan, Ali sesekali bercanda dan tak lupa bertanya nama yang sedang diboncengnya.
Ternyata perempuan itu bernama Laras.
Hari itu matahari belum sepenuhnya tenggelam dan ternyata rumah
Laras sejalan dengan rumah Ali. Ia pun masih sempat melihat senja seperti
biasanya dijalan menuju ke rumahnya. Melewati jalan strategis untuk melihat
matahari terbenam yang sangat indah walaupun sesaat. Seperti ia berboncengan
dengan Laras walaupun tidak bisa lama. Ditambah, Ali sendiri sudah lama
tidak merasakan berboncengan dengan seorang perempuan, kecuali Ibunya.
...
Bagian 6

0 Komentar