MANUSIA KUSUT #5

 


...

Jam di dinding sudah menunjukkan waktunya pulang. Ali bergegas mengambil motor bututnya untuk segera pulang ke rumah. Diperjalanan menuju ke rumah, ia dikejutkan oleh sebuah kecelakaan “brakk…”. Sebuah motor tergelincir tepat di depan matanya. Ali merasa kasihan dan memutuskan untuk berhenti. Ia ingin menolong pengendara motor tersebut yang ternyata seorang perempuan.

Ali sebenarnya takut untuk menolong seseorang yang tidak ia kenal di jalan. Karena ia pernah dibegal dengan modus minta tolong dipinggir jalan. Namun karena rasa kemanusiannya yang tinggi, tidak bisa menahannya untuk tidak menolong sesama. Apalagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Pengendara motor itu jatuh sungguhan dan tidak pura-pura seperti Neymar disetiap pertandingan sepak bola. Ali pun segara untuk menolong pengendara itu.

Mba, enggak apa-apa?

Enggak apa-apa, Masnya mau ngapain ya?

Mau nolongin Mba, Masak mau begal?,

“Kirain Mas, ada orang susah masih saja mau diinjak            

Aku enggak seperti gerombolan mereka yang suka injak-injak rakyat kecil Mba

Maksudnya para pejabat?

Heh, Bukan Mba! Hati-hati kalau ngomong hehe.” Ali bercanda untuk sekedar menenangkan si perempuan yang habis terjatuh itu.

Perempuan itu kemudian membuka helm dan maskernya. Terlihat wajah cantiknya membiru menahan rasa sakit. Ali pun tak tega dan mencoba menawarkannya untuk diantarkan pulang ke rumah. Perempuan itu pun menolak. Namun Ali tetap memaksa untuk mengantarnya pulang karena melihat kondisi perempuan itu yang sulit untuk mengendarai motor sendiri.

Perempuan itu kemudian tidak bisa menolak maksud dari Ali. Motor yang rusak dibawa Ali ke bengkel yang tidak jauh dari lokasi mereka untuk diperbaiki. Ali pun mengantar si perempuan itu dengan mengendarai motor bututnya. Untuk mengisi kekosongan diperjalan menuju ke rumah si perempuan, Ali sesekali bercanda dan tak lupa bertanya nama yang sedang diboncengnya. Ternyata perempuan itu bernama Laras.

Hari itu matahari belum sepenuhnya tenggelam dan ternyata rumah Laras sejalan dengan rumah Ali. Ia pun masih sempat melihat senja seperti biasanya dijalan menuju ke rumahnya. Melewati jalan strategis untuk melihat matahari terbenam yang sangat indah walaupun sesaat. Seperti ia berboncengan dengan Laras walaupun tidak bisa lama. Ditambah, Ali sendiri sudah lama tidak merasakan berboncengan dengan seorang perempuan, kecuali Ibunya.

...

Bagian 6

Posting Komentar

0 Komentar