Ada Yang Berubah Di Tempat Kita Berdiri



Pada Siang hari ditengah-tengah derasnya hujan. Suara gemuruh penggusuran lahan terdengar lebih nyaring dibanding suara hujan.  Terlihat Nugraha dan keluarganya memandang dengan tatapan sedih melihat rumahnya telah hancur digusur oleh proyek pemerintah.

Nugraha yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama tidak bisa menahan amarahnya melihat orangtua mereka sedih. Ia kemudian melangkahkan kaki ke luar dari tempatnya berteduh dan meneriaki para petugas penggusuran lahan yang juga terdapat polisi dan TNI yang menjaga. “Kau rusak rumah kami, kau bangun kembali untuk orang lain!

Masyarakat yang terkena dampak penggusuran lahan ikut tersulut semangat Nugraha yang berani menyuarakan pendapat. Mereka semua menghampiri para petugas penggusuran dan menuntut untuk menghentikan operasinya. Kondisi tak terkendali hingga akhirnya terjadi bentrok antara warga yang terkena penggurusan dan para petugas. Kondisi bentrok yang mencekam membuat Nugraha menangis. Ayah Nugraha segera membawa Ibu dan dirinya ke tempat yang aman. Tangisnya tak pernah terdengar dan air matanya pun tak terlihat karena derasnya air hujan membasahi wajahnya.

Keesokan harinya, Nugraha sekeluarga sudah berada di desa tempat tinggal Kakek dan Neneknya. Jauh dari tempat tinggalnya yang berada diperkotaan. Berita tentang penggusuran lahan sudah sampai ke desa. Penggusuran lahan pun sudah selesai. Sudah tidak ada yang bisa diperbuat untuk menghentikan operasi tersebut.  

Nugraha, selamat datang cucuku,” Kata Nenek yang sedang menunggu kedatangannya di depan rumah.

Nugraha masih sedih Bu, banyak barang-barangnya yang enggak bisa diselamatkan termasuk mainan kesukaannya.” Kata Ibu sambil membawa koper.

Sini duduk dulu nak” Kata kakek.

Kita numpang dulu ya Pak-Bu?” Tanya Ayah.

Sudah kita siapin itu kamar buat kamu sama Nugraha nak.” Jawab Nenek.

Nugraha dan keluarga sampai di desa sore hari, mereka memutuskan untuk segera membereskan kamar sebelum petang. Nugraha mendapatkan kamar sendiri. Baginya bukan masalah walaupun tidak seperti kamarnya yang dulu. Tapi tetap ada yang berbeda.

Hari sudah malam, Nugraha kembali bersedih atas penggurusan lahan yang mengakibatkan rumah dan mainan kesukaannya hilang. Ayah dan Ibu pun segera menghiburnya. Kakek dan Nenek juga ikut menghibur. Bahkan mereka akan melakukan apapun agar Nugraha tidak kembali bersedih. Tapi Nugraha hanya minta dibelikan buku bacaan mengingat dirinya sementara harus putus sekolah.

Tidak lama, selang beberapa hari dari kepindahan Nugraha ke desa. Rasa sedih kemudian menghampirinya. Pintu kamar oleh Nugraha dikunci dan jendela ia tutup rapat-rapat. Kamarnya menjadi seperti penjara. Sekeluarga kebingungan dengan tingkah Nugraha yang menjadi seperti tahanan. Tapi Nugraha sendiri yang memaksa menjadi tersangka kasus kesedihan itu.

Nugraha termenung disudut kamarnya. Sesekali ia memeriksa ke luar kamarnya. Dengan mengendap-endap ia melihat dari lubang kecil di pintu. Ternyata tidak ada siapun yang masih menunggunya. Kemudian Nugraha berfikir mungkin ia tidak diperhatikan lagi oleh orang terdekatnya. Nugraha juga berfikir nasibnya bisa saja seperti rumahnya yang digusur, tidak ada perhatian dari pemangku kebijakan.

Fikiran Nugraha memang masih mengada-ada atau memang kebetulan begitu. Kesedihan benar-benar membelenggunya, membuat fikirannya tidak tenang. Hingga akhirnya ia memutuskan keluar dari kamarnya. Untuk sesekali menghirup udara segar di desa yang dekat dengan sawah dan hutan.

Di depan teras rumah, Nugraha tidak melihat siapapun kecuali Kakeknya yang sedang memberi makan sapi di samping rumahnya. Kakek yang melihat Nugraha pun langsung mengajaknya untuk memberi makan sapi. Nugraha yang belum pernah melakukannya menjadi ingin untuk memberi makan sapi. Dengan hati-hati ia melangkah ke arah kandang sapi.

Selengkapnya baca di buku

Posting Komentar

0 Komentar