Sekarang ini dunia sedang mengalami dampak dari wabah virus covid-19 atau biasa dikenal dengan istilah virus corona. Segala bidang kehidupan mengalami banyak problematika yang diakibatkan oleh virus ini dan salah satunya adalah bidang ekonomi. Banyak pengusaha-pengusaha bangkrut tidak bisa menjalankan roda ekonomi dan banyak para pekerja yang dirumahkan. Mereka kehilangan mata pencaharian.
Paijo adalah salah satu pekerja yang dirumahkan. Ia adalah seorang pekerja pabrikan, karena perusahaannya bangkrut. Terpaksa ia harus kehilangan mata pencahariannya. Padahal Paijo baru saja menjadi seorang ayah. Ia baru memiliki seorang anak.
Paijo yang bekerja mengandalkan tenaga ia selalu bergelut dengan mesin. Paijo tak sadar bahwa dirinya juga perlu mengembangkan keterampilan yang ia miliki sewaktu bekerja. Adanya kejadian malang ini membuat Paijo tidak bisa melakukan apapun. Lowongan kerja minim, keterampilan stagnan, modal untuk usaha tidak dimiliki, dan ditambah Ia baru memiliki seorang anak jelas perlu banyak kebutuhan tambahan. Untuk kebutuhan sehari-hari Paijo mengandalkan kerabat-kerabatnya.
Suatu hari di warung kopi Paijo bertemu dengan teman dekatnya sewaktu bekerja di pabrik bersama. Ia bernama Bahlul. Seorang teman yang sudah seperti saudara. Mirisnya Bahlul juga salah satu orang yang dirumahkan sama seperti Paijo.
“Jo Paijo sudah kerja dimana kamu sekarang?”
“ohh kamu Lul. Sulit lul cari kerja sekarang minim lapangan kerja. Apalagi adanya UU CILAKA, masyarakat seperti kita ini disuruh usaha sendiri, negara udah gamau mikirin.”
“Ga usah bawa-bawa negara apalagi para pejabatnya”
“Kamu kerja dimana sekarang Lul?”
“Kerja serabutan Jo, mau ikut?
“Wahh boleh Lul”
Setelah berbincang lama Paijo dan Bahlul memutuskan meninggalkan warung kopi. Pemilik warung kaget karena mereka menghilang tanpa jejak. Paijo dan Bahlul pergi tanpa membayar apa yang sudah meraka makan dan minum. Ditambah mereka mencuri 2 gas LPG pemiliki warung.
Mereka memutuskan untuk memanjangkan tangan. Memilih profesi menjadi MALING. Ternyata itu yang dilakukan Bahlul semenjak Ia dirumahkan. Tanpa pikir panjang Paijo yang banyak terhimpit kebutuhan sehari-hari dan anaknya yang membutuhkan susu langsung mengikuti apa yang dikakukan oleh Bahlul.
Berhari-hari mereka menyusuri desa-desa untuk memilih target buruan. Mereka mencuri setiap minggu sekali. Banyak yang mereka dapatkan mulai dari gas LPG, sembako dan lain sebagainya yang dapat mengisi kebutuhan sehari-hari. Beberapa kali mereka melancarkan aksinya dengan penuh kehati-hatian sehingga mereka jarang sekali terpergrok warga. Disuatu malam pernah mereka terpergok namun mereka berhasil lolos karena sudah tahu medan dan tahu harus bagaimana ketika terpergok.
Setelah lama menjadi maling, Paijo sedikit demi sedikit dapat menghidupi keluarganya. Namun waktu itu anak Paijo sakit. Ia harus membawanya kerumah sakit. Ternyata anak Paijo sakit parah dan harus masuk ke ruang UGD. Istrinya sedih dan bingung harus membayar menggunakan apa untuk biaya pengobatan si anak.
“Pak, gimana untuk bayar pengobatan anak kita ini?”
“Sudah tenang saja Bu, ini kita bayar setengah dulu”
“Bapak ini uang banyak dari mana?”
“Sudah tidak usah banyak tanya, aku sudah kerja”
Di malam hari, tepatnya malam jum’at kliwon. Paijo memutuskan untuk berangkat bekerja. Ia mengajak si Bahlul untuk beraksi malam itu karena Paijo membutuhkan biaya untuk membayar kekurangan dari pengobatan anaknya.
Paijo dan Bahlul berangkat menggunakan sepeda motor. Kendaraan mereka seperti biasa sudah ditempatkan diposisi strategis untuk berjaga-jaga dan agar siap untuk kabur. Mereka mengincar sebuah rumah mewah yang pasti didalamnya banyak barang-barang berharga dan harganya lumayan ketika di jual.
Mereka sudah menjadi buronan dan tidak tahu bahwa ternyata sudah berjalan kembali PAM SWAKARSA. Pasukan Pengaman Masyarakat atau bisa jadi seperti satpam dengan baju polisi. Pasukan itu ada dulu untuk mengamankan demonstrasi mahasiswa. Karena melihat situasi dan kondisi corona yang mengakibat pengangguran. Memungkinkan kegiatan negatif seperti maling ini banyak berkeliaran. Maka dari itu pemerintahan orde paling baru melalui PAM SWAKARSA siap berada di depan.
Tepat pukul 00.00 WIB Paijo dan Bahlul terpergok pasukan bersama warga setempat. Ternyata rumah mewah itu adalah jebakan karena sebelumnya gerak-gerik Paijo dan Bahlul sudah tercium. Mereka kabur terbirit-birit. Motor yang mereka sembunyikan ternyata sudah diketahui warga. Mereka tak bisa kabur dan Bahlul tertangkap warga. Dihajar massa dan mati.
Paijo berhasil lolos naik ke atas pohon, tidak ada yang melihat Paijo. Padalah persis di atas tempat dihajarnya si Bahlul. Paijo menangis melihat dengan mata kepalanya sendiri. Tepat di bawahnya terdapat mayat teman koleganya.
Paijo sudah pasrah, Ia siap jika memang harus mati. Namun anehnya di dalam hati kecilnya. Ia sempat untuk berdo’a
“Tuhan tolong ampun, aku belum ingin mati. aku masih ingin melihat anak istriku untuk terakhir kali”
Sampai pagi buta tidak ada yang mendapati paijo. Ia berhasil melarikan diri. Paijo menyadari yang ia lakukan itu salah. Dan Ia mengakui, berdo’a memohon ampun atas apa yang Ia lakukan adalah perbuatan hina. Paijo menangis.
Paijo memutuskan untuk kembali ke rumah sakit walau dengan tangan kosong. Sesampainya disana Ia melihat istrinya menangis. Ternyata anaknya meninggal. Paijo ikut menangis. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Hatinya seperti tertusuk-tusuk jarum. Ditambah Ia bingung harus bagaimana membayar kekurangan biaya rumah sakit si anak karena Ia kembali dengan tangan kosong”
“Bagaimana biaya rumah sakit dan pemakaman bu?”
“Sudah pak, biar gantian Ibu yang mikirin”
“Dapat uang darimana kamu?”
“Aku terpaksa mencari kerja seadanya semalam dan dikasih pinjaman ”
“Ohh yasudah”
Paijo dan sang istri pulang ke rumahnya. Setelah pemakaman sang anak selesai. Paijo kembali memikirkan kehidupannya sehari-hari. Ia sontak mempertanyakan pekerjaan sang istri karena memungkinkan bisa ikut bekerja bareng disana.
Sang istri berkata jujur. Ternyata sang istri terpaksa menjadi pekerja seks dadakan melihat kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Mirisnya dokter rumah sakitlah yang mendapatkan servis dari istri Paijo di malam jum’at kliwon waktu itu. Tidak lama kemudian istri Paijo meminta cerai. Hati Paijo berdarah-darah.
Akhirnya Paijo memilih menyerahkan diri ke polisi lantaran Ia tidak tahu lagi harus hidup bagaimana. Ia kemudian sadar walaupun hina do’anya tetap dikabulkan oleh Tuhan dengan cara yang lain.

0 Komentar