Mahasiswa Baru, Baru Masuk Kampus

 



Toni adalah salah satu orang dari banyaknya orang yang baru lulus sekolah. Dia baru melepas masa putih abu-abunya. Masa dimana penuh diisi dengan sebuah kegembiraan semacam bolos sekolah namun dia sangat pintar bahkan terkenal pelit  tidak mau memberikan contekan kepada temannya saat ujian. Tempat tinggalnya jauh dari perkotaan namun dekat dengan suasana kota. Suasana dengan penduduk yang kian tergerus perkembangan zaman sehingga pelosok desapun rasanya sama dengan perkotaan. Tetangga satu dengan yang lain saling beradu gengsi namun bergotong royong ketika soal makanan. Sekelumit hal tentang sebuah daerah yang mana pasti memiliki ciri khas masing-masing.

Waktu kian berlalu, pendaftaran Perguruan Tinggi sudah memasuki fase penetapan peserta didik baru. Dari sekian Perguruan Tinggi yang Toni daftar mulai dari Semarang, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta tidak ada satupun yang menerimanya baik pendaftaran online sampai dengan tes langsung. Padahal Toni sudah berdoa dan berusaha semaksimal mungkin sampai Ia jatuh sakit bukan karena tidak lolos melainkan karena kehabisan tenaga. Ia bolak-balik dari kota satu ke kota lain demi sebuah cita-cita. Sangat bersyukur Perguruan Tinggi yang ada di kotanya malah menerimanya padahal itu bukan target utama. Padahal si Toni ingin kuliah diluar kota ambil bidikmisi agar tidak banyak membebani orang tuanya. Namun nasib berkata lain.

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam adalah kampus yang jadi tempat berlabuh si Toni. Karena kampus inilah yang menjadi alasan terakhir agar bisa melanjutkan proses studinya. “Daripada tidak kuliah” kalimat yang biasa Toni lontarkan kepada siapapun yang mempertanyakannya. Seringkali teman-temannya merasa bingung karena jurusan yang diambil oleh Toni tidak sesuai dengan bidang yang disukainya. Ia suka olahraga dan sejak di  sekolah Ia sering menjuarai berbagai macam kejuaraan salah satunya adalah sepak bola karena merupakan olahraga yang disukainya.

Suatu waktu Toni bertemu dengan Khilan di rumahnya. Seperti yang dikatakan oleh teman seperjuangannya. Seorang teman yang paling disukai dan juga sekaligus dibenci. Khilan adalah teman dikala sedang bahagia merapat dan dikala sedih Ia mengumpat.

Gak ada kampus lain apa Ton?” lagaknya sombong karena sudah masuk di salah satu Perguruan Tinggi ternama.

Ya gimana ya Lan, mungkin aku ditakdirkan kuliah di daerah sendiri” sambil terdiam memikirkan masa depannya di kampus.

Itu kan bukan bidangmu, kau mondok di pesantren saja enggak, bagaimana kau tahu soal agama? IAIN kan banyak pelajaran agamanya!” agak merendahkan sambil menatap tajam wajah Toni.

“Bersyukur saja lah, mungkin ini takdirku agar bisa membantu orangtua dirumah dan juga jalanku agar bisa lebih dekat dengan Alloh hehe” kata Toni sambil tertawa dan diikuti Khilan yang tertawa lebih kencang.

Tentang takdir memang tidak ada yang tahu. Karena sukses itu bukan karena Perguruan Tingginya, tapi karena diri sendiri yang mau menempa diri dan berproses ke arah yang lebih baik untuk menggapai sebuah cita-cita. Banyak juga yang lulusan Perguruan Tinggi ternama yang masih menganggur. Karena dunia kerja sekarang sulit, saingannya ketat dan banyak. Kalau tidak  punya orang dalam berarti harus punya uang banyak. Maka dari itu kualitas dari diri sendiri adalah jawabannya.

Selengkapnya baca di buku

Posting Komentar

0 Komentar